Ranah

Ratok taragak dari rantau

Laba-laba

Together, everywhere, forever..

Be happy

Ceria mengejar impian.. tetap optimis walau jalan masih berdebu

Revolution

Menyaksikan sisa-sisa Revolusi Mesir di Tahrir Square

BBM club

Belajar,Berbagi, Mumtaz | Korean view - International Park

Sejarah kita tak bisa lepas dari orang, bangunan, dan tradisi. Di dalamnya kita temukan nilai-nilai, pola hubungan, budaya, dan juga peradaban. Pada ketiganya kita menyandarkan sebagian besar proses bertumbuh dalam hidup. Sebab hidup, adalah soal bercermin dari masa lalu dan masa sekarang, untuk masa depan. Oleh karena itu, Al Qur'an menyuruh kita berjalan, agar mata lebih terbuka, agar kita mau berpikir, mengambil pelajaran, dan mengerti. Maka, "Lihat Bangunan, Orang, dan Tradisi Negeri lain" #tarbawi 295
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2014

Standar Sifat Fitrah Manusia

Manusia memiliki standar batasan sifat asal/ fitrahyang melekat kepada kepribadiannya. Apabila sifat tersebut melebihi batasstandar tersebut maka akan dianggap "melampaui batas". Namu apabila kurang dari batas normal tersebut maka akan dipandang kurang dan hina.

Di antara sifat asal tersebut adalah:

1.Marah
Marah merupakan sifat asal/fitrah manusia. Apabila sifat marah ini berada dalam ukuran standar (proporsional) maka akan dipandang sebagai sebuah keberanian yang terpuji. Marah akan menjadi senjata untuk mempertahankan dan membela sebuah kebenaran. Namun apabila ia melebihi batas standar / ditunjukkan dengan cara yang berlebihan maka akan membawa pemiliknya kepada tindakan zholim. Sementara apabilaia kurang /dibawah standar proporsional akan menjadikan seseorang pengecut dan tidak mampu membela diri.

2.Ambisi
Sifat ambisi adalah sebuah fitrah manusia yang berupa keinginan untuk memperoleh sesuatu. Sifat ini akan mendorong manusia untuk berusaha mendapatkan segala kebutuhan hidupnya. Apabila ambisi ini masih dalam ukuran normal dan standar maka akan menjadikan manusia merasa selalu berkecukupan untuk urusan dunia (qana'ah). Apabila sifat ini melebihi ukuran normal maka akan menjadikan manusia tamak kepada hal-hal yang tidak perlu. Namun apabila kurang dari batas normal akan menyebabkan manusia hina dan tidak bergairah dalam hidupnya.

3. Hasad
Hasad juga merupakan sifat asal manusia. Apabila sifat ini masih dalamb batasan normal, akan menjadi pendorong bagi manusia untuk berkompetisi dalam mencapai kesempurnaan. Hal ini mesupakan sesuatu yang baik dan terpuji. Bahkan Allah dan Rasul-Nya juga senantiasa mendorong kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbaiki diri dan mengejar peluang kebaikan sebanyak-banyaknya. Namun apabila sifat hasad ini melebihin batasnya, maka akan mendorong manusia berbuat zhalim,dengki dan ingin menghilangkan kebaikan tersebut dari orang lain.Sebaliknya seseorang akan mengalami penurunan  obsesi jiwa dan melemahnya himmah apabilasifat hasadnya berada dibawah standar yang wajar.

4.Syahwat
Syahwat adalah sifat asal manusia. Ia bukan sesuatu yang buruk selama ia masih dalam standar yang normal. Fitrah ini akan mendatangkan kenyamanan bagi hati dan akal dari kepenatan beribadah. Tapi apabila sifat ini berlebihan maka akan membawa manusia sampai kepada derjat binatang dan buas. Namun sebaliknya apabila ia kurang atau bahkan tidak ada sama sekali akan menjadikan manusia tidak seimbang dalam menjalani hidupnya.

5.Dermawan
Pada asalnya sifat dermawan ini adalah prilaku terpuji yang dimiiki oleh manusia. Apabila ia seimbang dalam diri manusia akan membawa manusia kepada kemuliaan, pemurah, peduli dan mampu berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Akan tetapi jika ia berlebihan akan menjadikan manusia mubazir dan mengeluarkan hartanya kepada hal yang tidak bermanfaat.  Akan tetapi apabila ia kurang dalam diri manusia akan melahirkan sifat bakhil dan kikir.Tentunya ini tidakbaik. 

Maka sebaik-baik urusan adalah yang di pertengahan. 

Referensi: Kitab Al Fawaid

Kamis, 13 Juni 2013

Balada Surau Tua

Surau Tua
bangunan tua itu membuat hati miris
nasibnya kian hari makin tak terurus.
halamannya yang dulu asri kini penuh semak berduri
atap yang dulu cerah mengkilat kini sudah hitam berkarat
tiangnya yang kokoh kini telah keropos
tak ada lagi yang tahu mana jalan menuju surau itu
ia sudah lama ditinggalkan
ditinggalkan bukan hanya karena tak layak pakai
tapi karena tak ada lagi yang mau memakai

Surau Tua...
kini kian sepi ditengah keramaian
tak ada lagi suara riuh anak anak mengaji alif ba-ta atau Al-Quran
tak terdengar lagi suara batuk 'Buya' ketika mengajar anak anak atau mengimami Shalat
tak ada lagi suara serak Pak Bilal tua mengumandangkan azan
tak ada lagi suara 'tabuah' yang dipukul tiap Shubuh, Maghrib dan Isya
Tak ada lagi keciprak air pancuran ketika orang berwudhu

Surau Tua
terletak dipinggr kampung dan kini kian terpinggirkan

Surau Tua...
kini kian lapuk dimakan usia
pernah kubertanya ada apan dengan suaru tua itu...
mereka bilang tak ada imam
kutanya pada imam
dia bilang ak ada ma'mum
kutanya pada ma'mum
mereka berkata, kami tak mendegar panggilan azan
kubertanya ke mana Pak Bilal
kata mereka bilal sudah lama meninggal
kubertanya lagi...
kenapa tak ada yang mau menggantikan bilal?
kata mereka, lafaz azan tak satupun yang hafal
kalau pun ada, tapi tak lancar
kuteruskan bertanya
kenapa tak ada yang belajar?
mereka bilang kami tak punya guru
kubertanya pada guru
jawab guru, tak ada murid yang mau diajar
kutanyakan pada murid kenapa tak mau diajar
mereka bilang, uang iuran mahal
kata yang lain pak guru sangar
pak guru bilang murid-muridnya nakal
tapi murid membantah pak guru tak pandai mengajar
dan aku bertanya lagi
apakah surau itu akan dibiarkan tertinggal?
dan rela kampung ini mendapat bala hingga semua akan menyesal?
hening...
tak satupun yang menjawab
dengan serempak mereka menjawab "tidak..."
kalau begitu siapa yang bersedia 'menghidupkan' surau itu lagi?
semua bungkam dan saling tatap satu sama lain
lama, tak ada jawaban
hingga seorang pemuda maju dengan malu malu
"saya bersedia...", katanya
semua mata tertuju padanya
bisik bisik pun mulai terdengar dari mereka
"Siapa dia?"
"Siapa orang tuanya?"
"Apa sekolahnya?"
"Memangnya dia bisa apa?"
Ada yang bangga, ada yang mencibir, ada yang tak respon apa-apa
Oh ya kawan
ada yang menarik
ada yang berkomentar begini;
"Dia ank siapa?"
"Dimana kampungnya?"
"Apa sukunya?"
"Bolehlah dijadikan menantu..."
hingga si pemuda tersipu-sipu
sementara anak-anak gadis mereka tertunduk malu
dan saling tatap penuh cemburu
hingga kabar tentang pemuda ini
sampai ke telinga sang guru
yang telah lama ditinggal murid-muridnya
sang guru tersenyum bangga bercampur haru
dengan mata berkaca-kaca ia berkata,
"dia dulu adalah murid terbaik saya...
semoga dia lebih baik daripada saya"

Sejak hari itu
Surau Tua tak lagi merana
kala fajar menyingsing,
suara 'tabuah' kembali bergema di pelosok kampung
disambut kumandang suara azan yang mendayu-dayu dibawa semilir angin
terkadang suaranya menghiba
terkadang penuh emosi
kokok ayam jantan pun kini berubah,
kalau biasanya berkokok dengan nada emosi
karena sang tuan masih mendengkur
kini bervariasi, sesuai suasana hati
jangan tertawa kawan...
tapi beginilah nuansa semarknya kampung

azan selesai, satu dua orang mulai berdatngan ke Surau Tua
ada Kakek Ini, Nenek Itu, Amai Itu, Inyiak Ini
mereka berjuang dengan langkah terseok-seok dan nafas yang sesak
melawan dinginnya udara pagi
terkadang ditemani cucu mereka yang masih kecil
berjalan dengan sempoyongan melawan rasa kantuk
pagi itu kampung kembali semarak...

saat petang datang menyambut malam
anak anak mulai ramai berdatangan
riuh rendah suara teriakan mereka
menjadi salah satu musik alam yang indah
ceria wajah mereka
canda dan teriakan mereka
sembari berlari-lari di sekitar pekarangan Surau Tua mennunggu azan magrib
mejadi pemandangan yang menarik
terkadang membuat gusar orang yang melihat
karena ulah mereka mengganggu teman-temannya
dari jendela Surau Tua,
sang pemuda tadi mengawasi anak anak
dengan senyum wibawa menghiasi bibirnya

'tabuah' bergema
disambut alunan merdu suara azan
melalui corong Toa yang baru saja dipinjam dari balai kelurahan
anak anak berebutan memasuki Surau Tua itu
bapak -bapak, Ibu-ibu dan beberapa remaja serta pemuda
berdatangan ke Surau Tua itu
ada juga para gadis belia
dengan berbagai tingkahnya
datang walau ada yang tak ikut Shalat
tapi hanya karena ingin melihat 'ustadz baru' yang tampan
lalu membuat gaduh di pojokan
ketika adik-adik mereka mengaji
lalu tersenyum senyum centil
dan cengengesan ketika merasa diperhatikan oleh sang ustadz
dengan begitu mereka puas
si ustadz ini akan jadi salah tingkah
karena ia juga merasa ada jamaah yang memperhatikan
ah, ini adalah romansa Surau Tua
cukup indah untuk dikenang
tapi apa yang tersimpan dalam hati masing masing siapa yang tahu

Oh ya kawan,
kalau kita berlama-lama di bagian ini tak kan pernah kunjung selesai
tapi begitulah...
hari hari mulai terasa hidup
Surau Tua itu kini kembali terang benderang
tak lagi sunyi dan angker
pemuda itu masih bertahan

Kawan, cerita Surau Tua tak berakhir di sini
masa berlalu, hari, bulan, dan tahun berganti...
Suatu hari
aku kembali bertanya tentang Surau Tua itu
seorang kawan lama bertutur...
Kawan,
Surau Tua itu sudah lama ditinggalkan
tak ada lagi orang datang untuk beribadah ke sana
bapak-bapak lebih banyak datang ke kedai kopi,
sebagian ibu-ibu suka ngerumpi di tempat arisan
atau sibuk di kantoran
tak lagi terdengar suara 'tabuah'
kumandang azan, dan alunan ayat-ayat suci tiap Jum'at pagi
atau tak ada lagi suara riuh anak anak mengaji
mereka sudah terpaku didepan televisi atau main playstation
atau ada yang sibuk sekolah, les ini, privat itu

Surau Tua itu
kian kian reot
semak semak sudah meninggi
berkejaran dengan alang alang dan pakis liar
tak terdengar lagi pengajian tiap Sabtu malam
tapi sudah berganti dengan suara organ tunggal

tentang sang pemuda...
ia sudah lama meninggalkan kampug itu
tak tahan dengan pedasnya cercaan benci
cemoohan dengki
yang terlontar dari lisan tak bertanggung jawab
ia dikeroyok oleh beberapa orang pemuda
diusir karena difitnah dengan seorang wanita
duhai, kasihan pemuda itu
jadi pemeran Yusuf 'alaihissalam abad modern
hingga kini...
tak seorangpun yang berani maju menggantikan
tak ada lagi yang berjiwa seberani pemuda itu
atau belum punya keberanian
tak peduli, trauma, tak percaya diri

Surau Tua itu...
nasibnya kini kembali merana
tak ada yang mengurus
tak ada yang mengunjungi
konon baru baru ini terjadi sengketa
tentang kepemilikan tanah tempat berdiri Surau Itu
Ah, Surau Tua...
nasibmu
entah sampai kapan...
________________________
::karya selepas makan malam,::

Kairo, suatu malam di musim semi, Senin/8 Maret 2010
22:45 CLT
Harun AR








Minggu, 12 Mei 2013

Kekuatan Moral yang Menggentarkan

Oleh: Harun Al Rasyid
Hari pertama pertempuran Qadisiyah, pasukan Muslim terdesak dan nyaris kalah. Di luar dugaan, kuda-kuda pasukan Muslim kalang-kabut menghadapi pasukan bergajah Persia. Selain itu jumlah musuh yang jauh lebih besar cukup mempengaruhi psikologis tentara Qadisiyah. Selama dua hari pertempuran tentara Persia berhasil mengacaukan barisan Muslim.

Namun pada hari ketiga, 1000 bala tentara dari Syam datang dibawah pimpinan Qa’qa bin Amr At Tamimi. Sebelum sampai di medan Qadisiyah, Qa’qa membagi pasukannya menjadi sepuluh batalion kecil, masing-masing beranggotakan 100 tentara. Kemudian mereka bergerak satu persatu menuju medan pertempuran bergabung dengan tentara Sa’ad bin Abi Waqqash yang sudah bertempur selama dua hari. Pasukan ini terus berdatangan seakan ini tidak ada habisnya hingga nyali musuh pun gentar. Sementara tentara Muslim semakin kuat dengan kedatangan bala bantuan yang tak pernah putus ini.

Beberapa abad setelah kemenangan Qadisiyah realita justru berbalik arah. Umat Islam tak lagi bisa membendung ekspansi besar-besaran bangsa barat. Dengan propaganda media, pemikiran, berbagai tuduhan dan fitnah mereka terus memecah belah dan melemahkan umat ini hingga mereka sibuk dengan wacana yang mereka gulirkan.

Inilah Palestina, setelah jatuh dari pangkuan Islam negeri ini menjadi bulan-bulanan kaum zionis demi melancarkan ambisinya. Setiap hari puluhan rakyat ditangkapi, dibunuh dan dizhalimi. Harta mereka dirampas, perkampungan dihancurkan dan diganti dengan pemukiman-pemukiman Yahudi. Sementara Al Aqsa setiap saat tak luput dari penodaan.

Negara-negara Islam belum mampu berbuat banyak memberikan pembelaan, sehingga zionis begitu leluasa meneruskan ambisinya. Gerakan-gerakan perlawanan Palestina tetap bertahan sekalipun dalam pengepungan dan blokade. Mereka berdiri memikul beban seluruh umat Islam mempertahankan bumi waqaf Palestina dan kemuliaan Al Aqsa.

Sudah saatnya kita menyadari, menyatukan suara dan persepsi bahwa Palestina adalah tanggung jawab bersama. Tugas besar ini tak akan mampu dipikul oleh sekelompok orang, melainkan seluruh pihak ikut terlibat.

Kita perlu membangun solidaritas walau dalam bentuk paling sederhana. Walau hanya sekedar menyisihkan sedikit rezki yang kita miliki, walau hanya menyuarakan dukungan dan simpati. Namun jika dilakukan bersama dan terus-menerus maka batu karang yang keras suatu hari akan terbelah jika terus ditetesi air. Para penjajah itu tentu tidak lebik keras dari batu karang.

Solidaritas yang kita bangun terus menerus merupakan kekuatan moral yang kita berikan kepada bangsa Palestina. bantuan umat Islam tak akan berhenti sampai Al Aqsa dibebaskan. Dengan cara ini kita akan menggoncang kekuatan zionis sebagaimana dulu pasukan Qadisiyah berhasil menggoncang tentara Persia.

| Tulisan ini telah dimuat di rubrik "Sikap", buletin SINAI edisi Interaktif, April 2013

Kamis, 09 Agustus 2012

Ramadan Merubah Hidup Kita



“Sesungguhnya Allah tak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka merubah diri mereka sendiri”
Konsep ini telah lama kita kenal,  bahkan terlalu sering kita dengar. Perubahan besar  tidak akan terjadi sebelum ada yang memulai dari unsur terkecil, dari diri sendiri. Seekor ulat akan tetap menjadi ulat dan merusak lingkungannya sampai dia menjadi kepompong dan berdiam di dalamnya. Hingga sampai waktu yang ditentukan, ia akan bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu yang indah.
Al-Qur’an yang merupakan khithob ilahiyah yang berisikan pesan-pesan agung datang menawarkan sebuah konsep perubahan dalam kehidupan manusia. Al-Qur’an mengeluarkan manusia dari kejahiliyahan menuju beradaban agung yang tak tertandingi sepanjang sejarah peradaban manusia. Perubahan besar inilah yang mulai terjadi semenjak generasi-generasi pertama umat ini.
“Wahai umat manusia, sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas dari Rabb kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang.” (QS. an-Nisaa’: 174)
Siapa yang tak kenal Umar bin Khatab. Sosok tempramen yang sangat benci kepada dakwah Islam. Tiba-tiba hatinya luluh ketika dibacakan Al-Qur’an. Kemudian dia mendapat gelar Al Faruq (Sang Pembeda) semenjak dimulainya dakwah secara terang-terangan. Demikian juga para para sahabat yang lain dan generasi-genersi terbaik setelahnya. Mereka adalah didikan Madrasah Rabbaniyah yang dibentuk dengan Al-Qur’an.
Konsep perubahan yang ditawarkan Islam sangat komprehensif, menyentuh seluruh lini kehidupan manusia dan lengkap dengan wujud aplikasi nyata. Pada akhirnya pengamalan-pengamalan ini dengan sendirinya akan membentuk karakter pribadi 'insan ideal' yang layak menyadang sebutan khalifatullahi  fil –ard. Pada waktu yang sama juga dituntut bisa menjalankan peran sebagai seorang hamba.
”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah:30)
“Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku” (Adz Dzariyat : 56)
Al-Qur’an berisi panduan lengkap bagaimana memainkan peran ganda ini dengan memperhatikan tiga komponen dasar; iman, islam dan ihsan dan tiga orientasi interaksi; manusia dengan Pencipta, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan. Ketika tiga unsur  ini terpenuhi maka disanalah seorang manusia menjadi pribadi ideal seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.
Tapi sebuah pertanyaan besar yang saat ini muncul, kenapa umat Islam yang telah diberikan kematangan konsep Al-Qur’an hingga hari ini masih belum mampu merubah kehidupannya? Terutama semenjak keruntuhan Dinasti Utsmaniyah. Pondasi-pondasi kejayaan umat ini seakan ikut tenggelam dalam lumpur peradaban hingga kehilangan eksistensinya. Justru hari ini umat Islam dipaksa berkiblat ke Barat dalam banyak hal. Dimana letak masalahnya?
Permasalahan ada pada umat Islam. Pada kita. Pada pola interaksi kita dengan Al-Qur’an.  Sudahkah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai kebutuhan? Sudahkah Al-Qur’an kita jadikan cermin seluruh tindak-tanduk kita? Minimal, sudahkah kita meresapi seluruh interaksi kita dengan Al-Qur’an?
Kemajuan umat ini akan dapat terlihat dari sejauh apa kedekatan umat Islam dengan Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an menjadi cermin kehidupan, maka saat itupula umat ini meraih kemuliaan dan kejayaannya. Tapi sebaliknya tatkala umat ini lalai dan meninggalkan Al-Qur’an maka  saat itu sejatinya umat ini sedang terpuruk dalam kehinaan.
Ramadan kali ini kembali menyapa kita. Membuka kesempatan bagi kita memperbaiki kembali  interaksi dengan Al-Qur’an. Kembali kepada Al-Qur’an.  Kembali dalam arti sesunggunya. Tak sekedar membaca, tapi mentadaburi dan mengamalkan pesan-pesan ilahi, manjadikannya cerminan utama seluruh sikap kita.
Allah telah menjadikan Ramadan ini sebagai bulan Al-Qur’an, maka sepantasnya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai menu utama aktivitas Ramadan  disamping ibadah lainnya. Tak sekedar rutinitas, tapi menjadi prioritas dan kebutuhan.
Sebagaimana Al-Qur’an berisi petunjuk dan pedoman kehidupan yang tak ada keraguan di dalamnya, maka Ramadan kali ini adalah kesempatan berharga bagi kita untuk memahami dan mengikuti petunjuk itu. Melakukan perubahan besar pola hidup kita sesuai tuntunan ilahi.
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).  (Qs. Al-Baqarah: 185)
Layaknya tamu yang datang mengunjungi rumah kita, yang telah lama kita rindukan kedatangannya. Ia membawa berbagai macam oleh-oleh berharga,  maka pantaskah tamu agung ini kita abaikan dan tak kita layani sepenuh hati?