Ranah

Ratok taragak dari rantau

Laba-laba

Together, everywhere, forever..

Be happy

Ceria mengejar impian.. tetap optimis walau jalan masih berdebu

Revolution

Menyaksikan sisa-sisa Revolusi Mesir di Tahrir Square

BBM club

Belajar,Berbagi, Mumtaz | Korean view - International Park

Sejarah kita tak bisa lepas dari orang, bangunan, dan tradisi. Di dalamnya kita temukan nilai-nilai, pola hubungan, budaya, dan juga peradaban. Pada ketiganya kita menyandarkan sebagian besar proses bertumbuh dalam hidup. Sebab hidup, adalah soal bercermin dari masa lalu dan masa sekarang, untuk masa depan. Oleh karena itu, Al Qur'an menyuruh kita berjalan, agar mata lebih terbuka, agar kita mau berpikir, mengambil pelajaran, dan mengerti. Maka, "Lihat Bangunan, Orang, dan Tradisi Negeri lain" #tarbawi 295
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Juni 2019

Selamat Jalan Presiden Mursi

Kabar duka hari ini menyelimuti dunia Islam. Mantan Presiden Mesir, Dr. Muhammad Mursi meninggal dunia, Senin (17/6) waktu Mesir. Ia diberitakan meninggal saat menjalani persidangan pada hari yang sama atas tuduhan spionase yang dijatuhkan atas dirinya oleh rezim kudeta As Sisi. Media Mesir melaporkan ia sempat jatuh pingsan dalam persidangan dan dilarikan ke rumah sakit, dan dikabarkan meninggal dunia pukul 16.50 waktu setempat.

Setelah melalui proses penanganan dari tim forensik, jenazah presiden ke-5 itu akan langsung dimakamkan di pemakaman umum di Nasr City, pada Selasa (18/6). Menurut keterangan yang dilansir dari media Rassd News Mesir, proses pemakaman hanya dihadiri oleh pihak keluarga dan kuasa hukum dengan pengawalan ketat dari pihak keamanan. 

Sebelumnya pihak keluarga telah meminta izin kepada pejabat berwenang Mesir untuk memakamkan Mursi di samping kuburan ibunya di Provindi Sharqeya, Delta Nil. Namun permintaan keluarga Mursi tidak dikabulkan.

Belum diketahui alasan pasti penyebab kematian Mursi yang tiba-tiba saat persidangan tersebut. Hanya saja menurut media televisi resmi Mesir, Mursi meninggal dunia karena serangan jantung. Sementara itu  Organisasi kemanusiaan "Amnesty Internasional"mendesak pihak berwenang Mesir menyelidiki kematian Mursi. 

"Kami meminta pihak berwenang Mesir untuk menggelar penyelidikan yang tidak memihak, transparan dan menyeluruh atas kematian Mursi, termasuk hukuman kurungan dan isolasi dari dunia luar," cuit Amnesty International dalam bahasa Arab, Selasa (18/6).

Mereka juga meminta penyelidikan atas perawatan kesehatan yang diterima Mursi. Amnesty International juga mendesak siapa pun pelaku penganiayaan harus mempertanggung jawaban tindakannya.

Apa reaksi atas kematian Morsi?

Partai Kebebasan dan Keadilan, yang memiliki kedekatan dengan organisasi yang kini dilarang, Ikhwanul Muslimin, mengatakan kematian Morsi identik dengan "pembunuhan", dan mendesak para pendukungnya berkumpul selama proses pemakaman dan berdemonstrasi di luar kedutaan besar Mesir di seluruh dunia.

"Mereka menempatkannya di ruangan tahanan khusus yang terisolasi selama penahanannya yang melebihi lima tahun, lalu menghalang-halangi pemberian obat-obatan dan menyediakan makanan yang buruk. Mereka mencegah dokter dan pengacaranya dan bahkan mencegahnya berkomunikasi dengan keluarganya. Mereka merampas hak asasi manusia yang paling sederhana," kata kelompok itu, seperti dikutip BBC, Selasa (18/6/2019).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang merupakan sekutu terdekatnya, menyalahkan pemerintah "tiran" Mesir atas kematian Morsi, sementara Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, yang merupakan sekutu terdekat lainnya, menyatakan kesedihan mendalam.

Crispin Blunt, anggota parlemen Inggris dari Partai Konservatif, yang sebelumnya memperingatkan tentang kondisi kesehatan Morsi, menyerukan penyelidikan internasional dan mengatakan pemerintah Mesir bertanggungjawab untuk menjelaskan kematian Mursi.

"(Mursi) ditahan di sel isolasi selama hampir enam tahun, yang berdampak besar atas kesehatan mental dan fisiknya. Dia secara efektif terputus dari dunia luar," kata Wakil Direktur Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Magdalena Mughrabi.

Direktur Human Rights Watch untuk Timur Tengah, Sarah Leah Whitson, mengatakan bahwa kematian Morsi mengerikan, tetapi dapat diprediksi.


Siapakah Dr. Muhammad Mursi?

Mursi yang bernama lengkap Muhammad Mursi 'Isa al-Ayyat lahir di  desa El-Adwah Provinsi Sharqiya di kawasan Delta Nil pada 20 Agustus 1951. Dia mendalami teknik sipil di Universitas Kairo pada 1970-an sebelum pindah ke Amerika Serikat untuk merampungkan studi tingkat doktoral. Sebelum terpilih sebagai presiden Mesir, Mursi pernah menjadi anggota parlemen Mesir periode 2000 - 2005, dan termasuk anggota parlemen terbaik. 
Pada pemilihan umum presiden Mesir tahun 2012 Mursi terpilih sebagai presiden Mesir ke-5, menggantikan presiden sebelumnya Hosni Mubarak yang terguling dalam revolusi Mesir 25 Januari 2011. Ia menjadi presiden Mesir pertama dari kalangan sipil, yang dipilih secara demokratis melalui pemilihan umum langsung, dan dilantik pada 30 Juni 2012.
Semasa menjabat sebagai pemimpin Mesir, Mursi telah melakukan berbagai kebijakan untuk memperjuangkan kebangkitan bangsa Mesir dan dunia Islam dari keterpurukan. Ia juga menjadi garda depan mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina, salah satunya adalah dengan mempermudah akses bantuan ke Jalur Gaza yang diblokade Israel. 
Terpilihnya Mursi sebagai presiden Mesir dari kalangan poros Islam yang dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin, menjadi puncak musim semi Arab. Harapan baru akan perubahan dan kebangkitan Islam tumbuh subur dan menjadi penyemangat berbagai gerakan Islam lainnya di kawasan Timur Tengah, bahkan juga dirasakan hingga tanah air. 
Namun perjalanan Mursi memimpin 'kebangkitan' Mesir tidak mudah. Berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh sebuah pemerintahan baru, membuatnya hanya bertahan satu tahun. Para penentangnya  dari kalangan sekuler, sosialis dan pendukung status quo (Pro Mubarak) terus melakukan berbagai manuver politik untuk melemahkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Mursi. Mereka melancarkan skenario chaos di berbagai wilayah. Mereka menyebut Mursi gagal memerintah selama masa kekuasaan yang bergolak serta menuduhnya membiarkan kelompok-kelompok berhaluan Islam mendominasi arena politik dan salah urus ekonomi.
Puncaknya adalah aksi gerakan tamarrud (pembangkangan) yang dilakukan oleh kubu oposisi pada 30 Juni 2013. Mereka turun ke jalan-jalan Mesir dan melakukan berbagai aksi kerusuhan, bertepatan dengan peringatan satu tahun kekuasaan Morsi pada 30 Juni 2013. Pada 3 Juli malam, junta militer dipimpin oleh Jendral Abdel Fattah As Sisi yang merupakan menteri pertahanan pemerintahan Mursi, melakukan kudeta atas pemerintahan Mursi. As-Sisi yang didukung oleh sejumlah tokoh, termasuk Grand Seikh Al Azhar Ahmed Thayeb membekukan sementara konstitusi dan mengumumkan pembentukan pemerintahan interim yang diisi oleh para teknokrat sebelum digelar pemilihan presiden baru. Sejak itu Mursi langsung ditetapkan sebagai tahanan dengan berbagai tuduhan atas dirinya. 
Hari-hari Keteguhan Mursi di Penjara 
Setelah Mursi digulingkan oleh As-Sisi, ia digantikan oleh PM interim Adly Mansur, yang ditunjuk oleh As-Sisi. Sejak itu ia di isolasi dari publik bahkan tidak diizinkan bertemu keluarganya. 
Mursi pun didakwa dengan berbagai tuduhan, diantaranya penyerangan demonstran di depan Istana negara, pemalsuan dokumen, membocorkan rahasia negara (spionase) dan sejumlah tuduhan lainnya. Ia mendapat vonis hukuman penjara lebih dari 45 tahun, bahkan vonis hukuman mati. 
Kendatipun demikian Mursi tidak menyerah, apalagi mengakui keabsahan rezim As-Sisi. Ia tetap menyatakan dirinya sebagai presiden Mesir yang sah, dan menentang kudeta militer atas dirinnya. Dalam beberapa kali persidangan atas dirinya, ia menyatakan akan terus memperjuangkan kedaulatan Mesir dan rakyatnya. Bahkan hingga persidangan terakhir yang dijalaninya pada 17 Juni 2019, dari balik kerangkeng besi, ia tetap tegar menyatakan pembelaannya terhadap demokrasi Mesir yang telah dirampas oleh kudeta militer. 
Namun tak dapat dipungkiri, selama dalam penjara militer, kesehatan Mursi mengalami penurunan. Banyak pihak menyorot pelayanan kesehatan untuk Mursi selaman di penjara tidak memenuhi syarat.
Detention Review Panel (DRP) dari parlemen dan pengacara Inggris, yang dimintai bantuan oleh keluarga Mursi, sebagaimana dilansir situs berita Aljazirah, pada Maret 2018 lalu, melaporkan bahwa mantan pemimpin Mesir  itu menerima perawatan medis yang tidak memadai, terutama mengenai perawatan diabetesnya yang juga tidak memadai, dan perawatan penyakit hatinya yang juga tidak memadai. 
Diolah dari berbagai sumber





Kamis, 02 Oktober 2014

Peranan Dakwah dalam Masyarakat Modern


Kemajuan arus globalisasi di satu sisi mendatangkan efek positif bagi perkembangan intelektual dan teknologi yang memudahkan manusia dalam banyak hal. Namun di sisi lain arus ini menjadi ancaman yang besar terkikisnya identitas dan integritas moral bangsa. Kecanggihan teknologi hari ini memudahkan akses informasi bagi siapa saja, tanpa ada sekat-sekat yang membatasi. Hal ini menjadi sarana pendukung bagi dunia barat untuk melancarkan perang pemikiran dan budaya bagi dunia timur, khususnya umat Islam.Dengan berbagai tayangan dan informasi kaum remaja diperkenalkan dengan trend-trend baru ala Eropa yang akhirnya mengikis nilai-nilai ketimuran yang sarat dengan norma. Untuk perkembangan selanjutnya serangan pemikiran ini berefek kepada kehidupan sosial masyarakat. Sehingga hari ini kita menemukan begitu kompleksnya permasalahkan yang terjadi di tengah masyarakat, terutama krisis moral dan integritas.

Pada waktu bersamaan tak bisa kita pungkiri bahwa perlahan orang-orang mulai menyadari pentingnya kembali kepada Islam dengan berbagai identitasnya. Hari ini Islam kembali menjadi tren baru kehidupan manusia yang mulai bosan dengan doktrin-doktrin kapitalis dan sekuler yang disebarkan oleh para misionaris ke berbagai penjuru dunia dalam berbagai bentuk. Kita menyaksikan orang berbondong-bondong membangun trend dengan merk “islami”. Walaupun dalam prakteknya masih banyak ruh keislaman yang dilewatkan, bahkan justru bertentangan dengan nilai-nilai asasi yang diinginkan Islam. Trend ini justru dimanfaatkan oleh kalangan tertentu utuk menciptakan nuansa abu-abu dalam beragama. Tapi setidaknya kondisi ini sudah lebih baik dan mulai positif bagi perkembangan dakwah. Artinya Islam mulai diterima oleh banyak kalangan masyarakat dan perjuangan-perjuangan dakwah sudah mulai menampakkan hasil yang positif. 

Untuk selanjutnya adalah bagaimana mengawal trend “islami” ini agar tetap bertahan berada dalam koridor yang tepat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islami itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa penjajahan “westernisasi” masih akan terus berlangsung dan mengancam. Masyarakat mau tidak mau dipaksa memakan “suguhan” racun budaya dan pemikiran lewat berbagai media informasi dan teknologi yang semuanya sarat denagan berbagai misi khusus. Sementara pada sisi lain moral dan kepekaan manusia sengaja dialihkan dan dipangkas sehingga lahirlah generasi-generasi yang mengekor kepada barat. 

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. QS. 2 : 120

Di sini peran dakwah sangat diperlukan guna mencounter pengaruh-pengaruh yang terjadi di kehidupan sosial. Dakwah juga dituntut hadir dalam berbagai lini kehidupan manusia untuk menghadapi perang pemikiran yang terjadi di tengang-tengah masyarakat. Sehingga dengan demikian perlu ada orang-orang siap sedia menjadi agen-agen yang senantiasa menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dengan demikian kekhawatiran-kekhawairan yang muncul akibat perubahan kehidupan soaial bisa diatasi. 

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Qs.3:104

Kamis, 12 Desember 2013

Mesirku, antara Idealisme dan Realita

Berfikir idealis memang perlu, namun ternyata tak selamanya idealisme mampu menjawab semua permasalahan yang ada. Karena realitas bisa saja lebih rumit dari idealisme yang kita yakini, bisa juga sangat sederhana, tak serumit teori yang kita fahami. Maka mereka yang bekerja di lapangan jauh lebih memahami persoalan yang dihadapi daripada orang-orang yang hanya duduk mengamati dan mengkaji.

Barangkali apa yang terjadi di Mesir saat ini adalah pembelajaran tentang bagaimana mencari titik temu antara idealisme dengan realita. Setelah kedok propaganda militer untuk menguasai Mesir terbuka, semua koalisi yang tadinya ikut bergabung menggulingkan Ikhwanul Muslimin terperangah dan terbelalak, terbangun dari mimpi, sadar bahwa mereka telah ditipu dan diperalat.

Akhirnya satu persatu mulai membangun keberanian untuk turun melawan, sebutlah tokoh-tokoh An-Nur dengan berbagai pernyataan sikapnya, gerakan Tamarrud yang tadinya dielu-elukan mulai sakit hati setelah dikhianati, gerakan 6 April yang merasa paling nasionalis dan merasa mendapat dukungan dari miluter, terpaksa menelan pil pahit setelah pimpinannya ditangkap.

Sekarang muncul pertanyaan, kenapa mereka yang sudah siap melawan itu tidak bersatu saja menggelar demo? Kenapa massa pendukung IM memilih bergerak sendiri dengan mengusung simbol Rab'iahnya, sementara gerakan gerakan lain memilih bergerak sendiri bersama kelompoknya. Bukankah persatuan akan menimbulkan kekuatan..

Semua itu benar, namun ada sebuah fakta yang tak bisa dipungkiri. Dimana terjadinya sebuah pengkhianatan bersama yang mengakibatkan massa Islamis (kecuali beberapa oknum salafi) terpaksa berjalan sendiri. Walau bagaimanapun pengkhianatan adalah sebuah hal yang sangat menyakitkan, dan inilah sumber bencana. Pengkhianatan telah menghancurkan nilai-nilai kepercayaan yang ada.

Sangat sulit untuk kemudian menerima dan melupakan rasa sakitnya. Apalagi kasus yang terjadi bukan lagi hanya persoalan politik, bahkan sudah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Siapapun dan kepentingan apapun tentu akan sulit bernegosiasi dengan kemanusiaan.

Dan faktanya lagi, hari ini siapapun yang turun bersuara akan dicap Ikhwanul Muslimin, sekalipun mereka membawa bendera yang berbeda, berasal dari barisan yang ikut meruntuhkan IM, punya tuntutan dan kepentingan yang berbeda dari IM.

Barangkali untuk saat ini realitanya masing-masing terpaksa bergerak sendirian. Setidaknya masing-masing bisa memperlihatkan sejauh mana komitmen dan kesungguhan tiap-tiap kekuatan menghadapi kudeta militer dan tidak terkesan saling memanfaatkan tatkala 'kepepet". Sampai suatu saat kekuatan-kekuatan ini akan bertemu pada satu titik, saling memahami, menerima dan bersatu membangun kekuatan baru. Semoga 


Menara Peradaban, Sinai Mesir.. menuju puncak musim dingin, 12 Desember 2013

Selasa, 24 September 2013

Catatan Kekejaman Polisi Mesir terhadap Keluarga Petinggi Ikhwanul Muslimin

Sejak diberlakukannya kudeta militer 3 Juli lalu terhadap Presiden Mesir terpilih, Dr. Muhammad Mursi  menyusul pembubaran paksa demonstrasi anti kudeta di Rab’ah dan Nahdah, pemerintah kudeta mulai gencar melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap tokoh-tokoh anti kudeta karena dinilai berbahaya bagi negara. Beberapa petinggi Ikhwanul Muslimin telah dijebloskan ke penjara termasuk Mursyid ‘Am Dr. Muhammad Badi’. Sementara petinggi-petinggi lain masih dalam proses pengejaran.

Polisi Mesir melakukan penggerebekan terhadap rumah salah satu petinggi Ikhwan di wilayah Giza, Muhammad Syadzali. Namun karena tidak menemukan tokoh yang dicari akhirnya polisi menyeret istri, anak dan tiga tetangganya ke kantor polisi Zyekh Zayad, Giza. Tak kurang, mereka dipukuli olrh polisi.

Aparat keamanan melakukan penggerebekan terhadap rumah Syadzali pukul 2 dini hari, Senin (23/9). Namun mereka tidak menemukan keberadaan Syadzali hingga aparat melakukan pemeriksaan ke beberapa flat yang ada di gedung tersebut. 3 orang tetangga Syadzali ditangkap, ditambah istri Syadzali dan anak perempuannya yang berusia 18 tahun.

Di markas polisi mereka diinterogasi dan diancam agar mau memberitahu dimana keberadaan Syadzali. Namun karena tidak mau memberitahu akhirnya polisi menampar wajah istri petinggi Ikhwan itu. Polisi juga membenturkan kepala putrid Syadzali ke dinding hingga mengalami luka pada telinga. Ini dilakukan untuk menekan agar Syadzali segera menyerahkan diri. Demi mengetahui kondisi keluarganya akhirnya Syadzali mendatangi kantor polisi tersebut pada pukul 4.30 pagi Senin  waktu Kairo.

Meskipun tidak ada surat perintah penangkapan dari kejaksaan, polisi telah menuduh Syadzali terlibat dalam aksi pembakaran kantor polsek Waraq- Giza, tempat Syadzali tinggal sebelumnya. Namuntuduhan tersebut dibantah oleh Syadzali dan keluarganya.

Syadzali terpilih sebagai sekretaris Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP)- sayap politik Ikhwanul Muslimin wilayah Waraq. Sebelumnya ia merupakan caleg FJP pada pemilu Majelis Shaab 2012 lalu. Ia sudah sangat dikenal oleh mesyarakat setempat dengan aktivitas social dan kontribusinya yang besar terhadap penduduk Waraq dan salah satu tokoh terdepan dalam Komite Rakyat yang sempat bahu-membahu bersama rakyat dalam mengatasi kesulitan gas tabung. Syadzali juga terus membangun koordinasi dengan polisi setempat untuk menjaga keamanan masyarakat.


Penangkapan Syadzali bukanlah yang pertama, tapi ia merupakan rangkaian dari episode penangkapan yang dilakukan oleh penguasa kudeta terhadap petinggi Ikhwanul Muslimin, sebagai rangkaian dari agenda kudeta yang telah dimulai sejak 3 Juli lalu. 

Selasa, 11 Juni 2013

Alunan Kalam Senja

Sore itu, setelah mendapat restu dari syekh, kami bergegas meninggalkan markaz menembus kepulan asap kendaraan yang berlalu lalang berbaur dengan debu jalanan yang menyesakkan nafas dan mengganggu pandangan sepanjang perjalanan dari Hawamidiyah menuju Kairo.

Tramco terus melaju berpacu dengan gelap malam, mengejar Maghrib di mahattah Munib. Di sela-sela suara berisik musik padang pasir tak karuan si sopir terus berteriak mamanggil penumpang.

"Munib...Munib.. Giza...Munib..."

Merasa tak nyaman dengan suara bising musik itu, seorang penumpang meminta sopir untuk mengecilkan volume audionya. Tanpa banyak protes akhirnya pemuda tanggung itu mengecilkan volume musik dan perlahan suara dendangan arab itu menghilang.

Tramco putih itu terus melaju, tak lama kemudian si sopir menyetel murattal, dari alunan suaranya sudah tak asing lagi, Imam Syaikh Musyari Rasyid dengan kelembutan suaranya yang khas membacakan Surat Ar-Rahman. Semua penumpang terdiam menikmati lafaz lafaz mulia itu. Ada nuansa sejuk yang menggetarkan hati.

Begitulah di negeri ini, hampir semua orang-sekeras apapun wataknya- selagi dia masih muslim akan mudah luluh dengan bacaan Al-Qur'an. Di Negeri ini, bukanlah suatu yang aneh jika ada orang yang membawa msuhaf ke mana-mana, membaca Al-Qur'an di bis, di metro(kereta), di angkutan umum lainnya, ataupun saat menunggu bis di halte. Al-Quran adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari hari-hari mereka. Baik pada hari-hari di bulan Ramadhan ataupun luar Ramadhan, sepertinya tak jauh beda.Bahkan di angkutan umum, alunan suara murattal bukan suatu hal yang asing. Memang tak seluruh sopir yang suka menyetel murattal di kendaraan mereka. Ada juga yang suka musik-musik tak karuan.Tapi tak ada yang berani komplain ketika sudah dihadapkan kepada lafaz-lafaz suci ini.

Ada sebuah pengalaman menarik seorang teman yang membuatku kagum lagi. Suatu ketika kawan ini melakukan perjalanan. Di tramco, ada seorang pemuda menyetel murattal lewat ponselnya, dengan volume yang agak dibesarkan agar semua orang bisa ikut menikmati. Ketika si sopir datang, dia meyetel musik dengan volume yang lumayan kencang, cukup untuk menyaingi suara ponsel tadi, lantas seorang bapak protes pada sopir dan menyuruh si sopir mamatikan musiknya. Sang Sopir tak menerima, dan terjadilah perdebatan sengit. Penumpang lain tak tinggal diam, dan akhirnya membela si bapak dan pemuda yang menyetel murattal tadi. "Dia lebih dahulu menyetel murattal daripada musik anda. Jadi tolong hargai bacaan Al-Qur'an itu..." Akhirnya si sopir terdiam dan kemudian mematikan musiknya, si pemuda pun ikut mematikan alunan murattal di ponselnya.Mungkin untuk menghargai perasan si sopir.Suasana berubah hening. Namun tak lama kemudian si sopir kembali menyetel audio car nya, tapi kali ini tak musik lagi, melainkan murattal.

Subhanallah, ini salah satu bukti ketundukan hati mereka pada Al-Qur'an.

Mengagumkan. Mereka juga sangat kagum dan senang pada siapapun yang hafal Al-Qur'an, apalagi orang asing. Tapi ini bukan berarti mereka tak hafal, malah sebaliknya.Setidaknya rata-rata mereka telah pernah menghafal Al-Qur'an 30 juz. Dan yang menarik lagi, mereka senantiasa berprasangka baik bahwa orang lain juga cinta pada Al-Qur'an. Maka ketika di bis atau dimana saja jika mereka melihat ada yang memasang headset, kalau mereka ingin berkomentar atau bertanya, mereka akan bertanya begini; "bitisma' Qur'an?" (Kamu lagi degarin Al-Qur'an ya?)"

Inilah salah satu potret terindah yang pernah kutemui di negeri Seribu Menara ini. Orang-orang yang cinta dengan bacaan Al-Qur'an, meskipun watak mereka sangat keras dan tempramen. Tapi hati mereka mudah luluh dengan ayat-ayat Tuhan mereka.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."(Qs. Al Anfaal ;2).

Potret ini akan mudah kita saksikan ketika 'berjalan' di negeri Nabi Musa ini. Seperti pengalaman perjalanan pulangku senja ini.

Di negeriku nun jauh di sana... ada ga ya, sopir angkot yang pede nyetel murattal?

Atau orang yang senang membaca Al-Qur'an, yang hatinya segera bergetar tunduk ketikamendengan bacaan Al-Qur'an?

________________________
Sepenggal cerita perjalanan pulang, senja yang menggetarkan hati, mengusik inspirasiku, menggoda naluriku untuk nulis lagi. Semoga bermanfaat untuk kita semua, Allahu a'lam.
>>Hawamdeya-Munib-New Cairo | 8 Oktober 2010

Yang Pertama yang Istimewa

Ada hal menarik yang sering kujumpai di wall fb beberapa hari ini.

Pertama, tiap kali kubuka wall, profil pertama yang muncul dan berada di urutan pertama orangnya tetap itu-itu saja. Selalu dia dari hari ke hari.

Kedua, setiap ku melakukan "posting", share atau update, yang ngasih jempol pertama selalu orangnya sama dan kemudian disusul yang lainnya. ^_^ Makasih buat yang sika ngasih jemPol.
Ketiga, ada yang selalu pertama memberikan respon pada status, foto, atau yang lainnya.
Keempat, ada juga yang pertama kali update dalam hal informasi.

Unik, dan masih bayak lagi "yang pertama" lainnya. Dan kawan barangkali juga pernah merasakan hal serupa.

Well, tak masalah dan tak ada yang salah. Mari kita tinggalkan pembahasan tentang mereka tadi. karena tak terlalu menarik pembahasan tentang orang-orang itu, dan kita tak berhak membahasnya. Lagian saya juga tak berminat "memperkarakan" mereka. Ntar tak ada lagi yang ngasih apresiasi. Biarkan mereka berkembang. .
Tapi ada yang lebih menarik untuk dibicarakan, yaitu istilah "yang pertama" Ada sebuah energi super yang terkandung dalam istilah itu. Hingga pada kenyataan banyak orang berlomba-lomba untuk mencapainya. Dan rata-rata orang memberikan sebuah apresiasi kepada mereka "yang pertama", ya tentunya dalam hal-hal kebaikan.

Mari kita baca biografi para tokoh dunia, khususnya dalam dunia sains (ilmu pengetahuan). Rata-rata mereka adalah para pioneer hingga nama mereka dikenang dan dihargai.

Allah SWT dan Rasul-Nya pun memberikan penghargaan kepada mereka yang pertama dalam melakukan kebaikan. Dalam Al-Qur'an Allah menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (..fastabiqul khairat).
Demikian juga Allah memuliakan para "assaabiquunal awwaluun" -mereka yang pertama masuk islam-, hingga memuliakan mereka dengan syurga.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan gelar "Ash-Shiddiq" kepada Abu Bakar karena dialah sahabat yang pertama kali membenarkan kerasulan beliau.

Artinya ada penghargaan istimewa untuk yang pertama.

Walaupun terkadang sebagian orang-orang yang cinta kepada keburukan, juga memberikan apresiasi kepada mereka yang pertama kali berhasil menimbulkan kemakaran. Tentu saja konteks ini diluar batas "etis" dan bukanlah hal yang diinginkan, melainkan sebuah penyimpangan. Namun pada hakikat tetap ada penghargaan kepda mereka "yang pertama", karena ia memang begitu istimewa.

Sungguh beruntung mereka yang pertama...

Yang pertama mengucapkan sami'na wa atho'na terhadap perintah Allah dan Rasulnya.
Yang pertama menjawab seruan shalat dan ada di shaff pertama dalam shalat.
Yang pertama peka dan peduli dengan kondisi saudara-saudaranya serta memberikan keringanan, dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.
Yang pertama hadir dalam majelis ilmu dan kebaikan.
yang pertama menjalin silaturrahim dan mema'afkan kesalahan saudaranya
Yang pertama bangun malam hari kala orang lain terlelap, lalu bermunajat pada-Nya.
Yang pertama menebar kebaikan hingga diikuti oleh orang-orang sesudahnya, hingga menjadi amal jariyah bagi dirinya.

“Barang siapa yang memberikan contoh dalam Islam, suatu contoh yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang mencontohkan contoh jelek dalam islam maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka”. (HR. Muslim)

 
Masih banyak peluang "Yang Pertama" lainnya yang memiliki keistimewaan tak ternilai.
So, mari jadi yang pertama. Karena yang pertama memang yang istimewa.

*catatan:Terdapat banyak pengulangan kata "Yang pertama" . Sengaja ditulis begitu agar kata "Yang Pertama" itu berkesan di hati. Semoga menjadi motivasi bagi kita semua. Terutama bagi kami pribadi.
Mohon maaf atas kekhilafan.
Allahu a'lam...

>Kamar atas , Almakki basecamp -Kampung 10- Nashr City-Cairo
Sebuah coretan dadakan
Suatu senja yang gerah 23 Juni 2010
Terimakasih buat sahabat-sahabat yang telah menjadi "Yang pertama" hingga menginspirasi tulisan ini. Semoga kita tetap yang pertama



#Arsip

Andai Hati Sebening Embun

Bismillah...

Selamat datang di hari ini. Semoga hari ini menjadi yang terindah dalam hidupmu. Tentunya bersama kebeningan hati mencari keberkahan dan ridho Sang Pencipta.

Kawan, sesekali cobalah tatap embun pagi. Bening sekali bukan? Namun kebeningan itu mampu memadukan aneka warna sekitar menjadi pesona terindah alam semesta. Beningnya tak ternoda hingga kita juga bisa menatap dengan jernih pemandangan dibelakangnya.

Sesekali, tataplah tetesan embun itu.Tetesan-tetesannya mampu memantulkan kemilau sinar surya pagi, memancarkan aura benderang dan keindahan di hamparan bumi ini. Tetesannya juga mampu memberikan kesejukan di tengah kersangnya dunia ini. Coba tatap lagi dengan penghayatan. Di sana kita akan merasakan agungnya mahakarya Sang Pencipta untuk kita renungi.

Kita. Alangkah indahnya jika kita memiliki hati sebening embun. Dengannya kita akan bisa menatap hidup ini lebih jernih. Hati sebening embun akan menerima kehidupan ini apa adanya namun mampu menjadikannya keindahan yang luar biasa. Seburuk dan serusak apapun bayangan yang diterima akan tetap dijadikan indah untuk ditatap. Inilah ketulusan dan kejernihan.

Hati sebening embun akan mampu memberikan kesejukan meskipun disekitarnya penuh kegersangan. Tak peduli seberapa banyak energi yang ia keluarkan.

Hati sebening embun, akan mampu menatap kehidupan ini dengan jernih, tak peduli sesemrawut apapun masalah yang dihadapi.

Andai kita pemilik hati sebening embun. Semoga





Menanti Fajar Shubuh, Jum'at 23.12.2011 : 05:45--
Istana SINAI Kampung 10 - Kota Kemenangan-

Selasa, 14 Mei 2013

Cinta itu memahami...

Edisi Curhat | Ini adalah sepotong memoarku dengan sahabat-sahabat terbaik yang pernah kutemui, bahkan kami sudah bagai saudara. Akur.

Kami resmi ketemu tanggal 17 Juli 2004 -kalau ngga salah- di sebuah kampus semi pesantren. Kata orang itu adalah kampus terkenal dan bergengsi. Katanya. Walaupun kenyataannya iya, hehe.

Sejak itu kami mulai saling mengenal dan diwajibkan saling kenal, karena aturan asrama kami memang begitu. Yang tidak mengenal teman-temannya bersiap "dimuhasabah" oleh senior.

Mulanya memang agak canggung, karena cukup banyak perbedaan di antara kami. Latar belakang sekolah, kapasitas akademis, kampung, karakter, dan lain lain. Hal yang paling mencolok pertama kali ketika itu adalah pertemanan. Ini lumrah. Di awal-awal masih ada kecendrungan untuk eksklusif. Biasanya hanya berkumpul dengan teman-teman satu almamater; satu Tsanawiyah (SMP), pesantren, satu kampung, kerabat, dll. Kemudian ini berlanjut pada kesamaan hobi dan karakter. Jadi muncul setelah itu anak-anak basket, anak-anak masjid atau apalah. Perbedaan lain yang cukup mencolok adalah kapasitas akademis. Yang berasal dari Tsanawiyah maeraca canggung melihat kemampuan berbahasa Arab teman-teman yang pernah di pesantren. Begitulah seterusnya sampai para senior cukup giat "memuhasabah" kami.

Perbedaan karakter adalah hal yang paling berkesan dan unik bagi kami sehingga menarik untuk dikomentari.Walhasil jadilah kami komentator-komentator ulung yang mengomentari satu sama lain. Orang-orang yang melihat sering merasa jengah bahkan emosi. Bukan karena dikomentari, tapi karena melihat 'nasib' mereka yang dikomentari. Tapi bingungnya, yang dikomentari justru malah makin sering mencari kesempatan untuk dikomentari, apalagi kesempatan untuk membalas.

Kebiasan ini cukup berpotensi mengundang konflik termasuk bagi saya. Konon katanya sih karena alasan harga diri. Apalagi ketika itu saya termasuk pemilik kecendrungan (baca: idealis) berbeda. Tidak suka diusik dan mengusik serta tidak pintar membalas :). Hingga suatu hari luapan konflik batin saya tak terbendung. Jangan salah, dulu saya pernah bilang begini kepada teman saya itu, "sekali lagi kau mengatakan 'itu', kubunuh kau!" (garang.com). Bahkan ada teman saya yang lain menulis sebuah surat untuk melampiaskan frustasinya, kami kompak menganggap itu adalah 'Surat Wasiat', (haha).

Akhirnya saya curhat kepada senior karena sudah tidak betah dengan suasana seperti ini. Senior saya ini memberikan banyak pencerahan. Inti dari semua wejangannya adalah menyarankan saya agar bisa memahami dan pandai menyikapi kondisi. Ibaratkan masalah itu adalah sebaskom air garam yang sangat asin jika dicicipi. Namun jika dilemparkan ke telaga ia tak akan berasa apa-apa. Terimalah masalah tu dengan hati seluas telaga.

Selain itu kita perlu mengenal karakter masing-masing orang sekitar. Harus bisa menyesuaikan diri dengan karakter mereka. Bukan berarti terkontaminasi, tapi pintar mencari posisi nyaman. Biarin aja mereka menjadikan kita sasaran empuk, karena mungkin kita sangat berkesan bagi mereka. Ntar juga bakal bosan sendiri.

Menuntut orang lain memahami kita adalah mustahil, justru akan menjadikan kita benda asing yang akan selalu berbenturan kondisi sekitar. Hasilnya kita sendiri akan babak belur. Tapi berikan ruang yang tepat untuk mereka agar tidak selalu berbenturan dengan kita.

Biasanya seseorang akan bersikap sesuai tipologi yang dia suka. Orang yang senang bercanda tentu tidak akan nyambung jika ditanggapi serius. Justru hasinya akan anarkis. Ya, anarkis. Tapi ini tidak berlaku untuk tipe tempramen. Jika sama-sama tempramen dipertemukan hasilnya adalah pertumpahan darah. Nah, lho..

Nyatanya benar. Dengan memahami ternyata akan menyelamatkan kita dari ancaman 'tidak nyaman'. Beginilah pergaulan menuntut kita.  Ini juga yang menjadi alasan saya nyaman bersama sahabat-sahabat ini. Bahkan membuat kerinduan kami selalu terpupuk, meski selalu ketemu tiap hari.

Saya sepakat kalau orang bilang ini cinta. Karena cinta akan tumbuh setelah saling memahami. Cinta itu memahami. Kalaupun ada kemudian hari yang berkata, "cintamu telah membunuhku.." itu adalah insiden. :D

Salam cinta untuk sahabat-sahabat saya, Generasi Laba2. Inni uhibbukum fillah .. 
 
Kairo, 14 Mei 2013
Mohon maaf jika alurnya kesana-kemari, namanya juga curhat, :)


Sabtu, 11 Mei 2013

Klarifikasi demo mahasiswa Al Azhar

Luar biasa kerja media, ibaratkan mayat yang sudah terkubur bisa dibangkitkan lagi kapanpun mereka mau. Saya kira musibah keracunan mahasiswa Universitas Al Azhar yang berbuntut pada beberapa reaksi lapangan sudah selesai, eh ternyata diungkit lagi.

Akhirnya saya tergelitik juga berkomentar.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sedikit galau dan ingin tahu apa yang sebetulnya terjadi. Apalagi ini melibatkan nama universitas saya, Al Azhar. Setelah mencermati beberapa wacana di lapangan saya menilai BEM Universitas Al Azhr juga harus "bertanggung jawab atas reaksi tersebut karena mereka punya wewenang mengkoordinir dan mengetahui aktivitas mahasiswa di lapangan. Walaupun belum berhasil menemukan nomor HP presiden BEM, alhamdulillah saya ketemu ketua BEM Fakultas Ushuluddin. Padanya saya ceritakan saja apa yang terlintas dalam kepala dan beberapa wacana yang muncul di ranah publik.

Dia pun memberikan klarifikasi berikut fotokopi Press Release BEM Pusat. Dalam lembaran itu dinyatakan bahwa BEM telah mengikuti perkembangan kasus ini sejak awal, bahkan jauh-jauh hari sebelum meluas. Mereka juga sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak yang berwenang namun belum ada respon dan solusi, sementara kasus terus berkembang cepat dan korban keracunan berjatuhan. Akhirnya mereka mendatangi kantor Grand Syaikh (masyikhah) dan memimta agar kasus ini segera diinvestigasi dan menyampaikan beberapa aspirasi mahasiswa.

Dalam Press Release yang dikeluarkan tanggal 7 April 2013 tersebut dinyatakan beberapa poin pernyataan sikap, antara lain:
1. Memastikan penurunan rektor
2. Terus mengikuti ketetapan-ketetapan dewan tinggi Al Azhar
3. Percepatan proses pemilihan rektor baru agar tidak ada kekosongan dalam jabatan ini
4. Menegaskan sikap/aksi santun di hadapan Grand Syaikh, tanpa menentang lembaga Al Azhar atau keinginan untuk merongrog Grand Syaikh seperti yang dipelintir oleh sebagian pihak
5. Memberikan penghormatan dan bersikap santun terhadap para guru di Al Azhar, hanya saya berbeda pandangan soal pengelolaan.
6. Penghormatan terhadap lembaga Al Azhar, senantiasa bersikap loyal terhadap Al Azhar dan berusaha mempertahankan independensi Al Azhar
7. Berterimakasih kepada Grand Syaikh yang sudah memberikan respon dengan cepat.
Sebagaimana apresiai juga diberikan kepada presiden dan pihak-pihak yang cepat tanggap menangani masalah ini.

Di akhir pertemuan mereka berpesan jika teman-teman wafidin punya kendala dan uneg-uneg berkaitan dengan kemahasiswaan atau isu-isu keazharan, BEM siap membantu.

***
Sebagai pihak ketiga atau orang-orang di luar lapangan kita perlu menemui pihak yang terlibat langsung dan minta klarifikasi agar bisa memahami persoalan dengan jernih. Tapi memang, biasanya penonton terlihat lebih tahu daripada pemain. ^^

Semoga bermanfaat, Allahu a'lam

Membaca lagi sejarah Yahudi.

Sampai di sini semakin jelas, kenapa orang Mesir paling benci pada bangsa Yahudi (Bani Israil). Ternyata kebencian ini juga merupakan warisan sejarah masa lalu. Setelah anak cucu nabi Ya'qub -alaihissalam- pindah ke Mesir sesuai ajakan Yusuf-alaihissalam-, mereka pun hidup berdampingan dengan bangsa Mesir dan mendapatkan posisi terhormat karena saudara mereka, Yusuf adalah pejabat penting negeri ini.

Namun sepeninggal Yusuf, mereka mengkhianati rakyat Mesir hingga mereka pun dibenci. Maka terjadilah revolusi yang berhasil menumbangkan rezim dan digantikan oleh orang-orang pribumi. Adapun Bani Israil dijadikan tawanan dan budak. Sejak itu mereka tertindas di Mesir hingga mencapai puncaknya pada zaman Fir'aun.

Kemudian Allah mengutus Musa -alaihissalam- untuk membebaskan mereka dari kezhaliman Fir'aun. Setelah melewati perjuangan yang panjang, Nabi Musa berhasil membawa mereka keluar Mesir dan menenggelamkan Fir'aun.

Tapi apa yang dilakukan oleh Bani Israil setelah itu? Yang pertama mereka lakukan adalah mengkhianati Tuhan yang telah menyelamatkan mereka. Belum kering air di kaki mereka setelah menyeberangi Laut Merah, ketika mereka sampai di perkampungan suatu kaum penyembah berhala mereka berkata kepada Musa. "Wahai Musa, buatkanlah untuk kami Tuhan sebagaimana mereka mempunyai sembahan-sembahan..." Hingga Musa marah besar namun tetap bersabar menghadapi mereka.

Berlalu beberapa waktu dari pengembaraan mereka, Musa meninggalkan mereka untuk sementara waktu dalam rangka menjemput risalah Allah di bukit Thursina. Apa yang mereka lakukan? Tersebutlah Samiri kemudian membuatkan patung anak sapi dari tempahan emas yang kemudian mereka jadikan sembahan. Mereka berkhianat untuk kesekian kalinya. Sedih, marah, kecewa.. itulah yang dirasakan Musa alaihissalam sekembalinya dari Thursina.

Ketika mereka diajak untuk memasuki tanah yang dijanjikan, bereka bukannya menerima ajakan itu, tapi malah mengatakan kepada nabi mereka (Musa, alaihissalam): ".. Pergilah kamu bersama Tuhanmu, adapun kami akan duduk-duduk saja di sini."

Begitulah, sepanjang sejarah bangsa Yahudi dipenuhi dengan pengkhianatan. Dan pengkhianatan yang mereka lakukan langsung, hanya beberapa detik setelah maut nyaris menyambar mereka.

Bersambung..

Sunatullah Kebangkitan

Sebuah Catatan dari Kebangkitan Islam di Mesir

|Oleh: Harun Al Rasyid *

Menjelang naiknya poros gerakan Islam yang dipimpin Ikhwanul Muslimin ke panggung perpolitikan pasca revolusi 25 Januari, Dr. Mohammed Morsi terlebih dahulu dijebloskan ke penjara Mubarak bersama beberapa petinggi IM lainnya karena dianggap sebagai dalang kerusuhan (baca: revolusi). Namun revolusi terus berlanjut hingga Mubarak lengser dan gerakan Islam yang sebelumnya diberengus oleh Sang Diktator muncul ke permukaan. Kekuasaan absolut berakhir sudah digantikan dengan kebebasan.

Angin demokrasi ternyata membawa semangat baru perjuangan gerakan Islam yang ada di Mesir. Ikhwanul Muslimin yang tadinya dicekal habis-habisan muncul bagai arus besar yang tak terbendung. Salafi yang tadinya menutup diri dari arus perpolitikan ikut ambil bagian dalam arena demokrasi ini. Demikian juga dengan Jamaah Islamiyah dan lainnya juga ikut mengisi momentum ini. Semuanya berjuang menyuarakan syariat Islam dan menyelamatkan revolusi Mesir ke pangkuan Islam.

Dalam beberapa kali pemilu kemenangan berada di poros Islam. IM dan Salafy berhasil memperoleh banyak kursi di parlemen. Ini menandakan bahwa kesadaran dan kepercayaan rakyat pada Islam kian membaik. Tapi yang perlu kita catat bahwa sepanjang proses menuju kemenangan-kemenangan itu kekuatan islam seperti IM dan Salafy tak luput dari tekanan lawan-lawan politik mereka. Beberapa kali IM dan tokoh-tokohnya difitnah, diintimidasi secara moral bahkan fisik. Berbagai pencitraan negatif beredar di media-media yang membenci naiknya Islam memimpin Mesir. Sementara Salafy diadu domba dengan kelompok Koptik. Padahal entah siapa yang ada dibalik berbagai isu propokatif itu.

Beberapa jam sebelum terpilihnya Dr. Morsi sebagai presiden, secara sepihak MK membubarkan parlemen yang mayoritas diisi oleh aleg dari poros Islam pemenang pemilu pertama yang dipilih secara demokratis oleh rakyat. Jelas ini adalah pukulan terang-terangan yang bertujuan mendepak kekuatan Islam di parlemen dengan alasan status inkonstitusional. Cukup beralasan, sekiranya lembaga legislatif telah dikuasai oleh Islam dan presiden -ketika itu sudah diprediksi- dimenangkan oleh Morsi (capres dari IM), maka revolusi Mesir akan menjadi kuburan masal bagi kekuatan liberal dan pejabat-pejabat korup era Mubarak. Walaupun ini hanya ketekutan yang berlebihan dari kelompok non-islam. Sehingga beberapa pihak berupaya menggagalkan revolusi.

Setelah Morsi naik sebagai presiden ternyata tekanan itu semakin kuat. Barisan oposisi berupaya membuat suasana clash dan menciptakan opini buruk di ranah publik dengan harapan hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemerintahan yang ada lalu akan terjadi revolusi jilid 2. Tapi nyatanya mereka gagal total. Morsi dan IM tetap tenang dan berjalan walaupun ditekan terus menerus, diembargo oleh pengusaha-pengusaha fulul, didemo sepanjang hari bahkan istana negara diserang, kantor-kantor IM dirusak hingga beberapa kader mereka gugur (semoga Allah menyertakan mereka bersama para syuhada').

Mereka menginginkan agar kekuatan Islam yang ada 'lost of control" dan kemudian bertindak diluar akal sehat, dan setelah itu biar rakyat akan menilai dan bersikap.  Tapi publik semakin bisa membaca apa yang sebetulnya terjadi. Ketenangan, kesabaran, keyakinan dan tsiqoh kepada Allah justru membantu kesuksesan misi-misi yang tengah dibawa. Adapun tekanan-tekanan tadi hanyalah sebagai pecutan agar pemerintah fokus melakukan percepatan misi dan menjadi aba-aba agar senantiasa berada di atas rel. Justru memperkecil ruang bagi pengusung kebangkitan ini untuk bereuforia dan terlena menikmati kemenangan.

Mereka harus berpacu bersama waktu, mengalahkan rintangan dan tekanan yang ada. Tekanan yang ada justru semakin menyadarkan bahwa mereka hanya punya waktu sedikit. Orang tidak akan peduli seperti apa kondisi yang mereka lalui, tapi hanya akan melihat apa yang telah mereka lakukan. Lalu apa hasilnya? Proyek besar konstitusi baru Mesir berbasis Syariat Islam berhasil dirampungkan walau dalam badai tekanan. Untuk perkembangan terkini sedikit demi sedikit perekonomian yang marupakan prioritas utama mulai membaik.

Dan Katakanlah: “Beramallah kamu, maka Allah akan melihat amalmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa-apa yang telah kamu amalkan (di dunia)” (QS. At-Taubah: 105)

Dan sejarah tentunya akan terus berulang meski beda ruang dan waktu. Apa yang dialami gerakan Islam di Mesir bukan yang pertama, tapi merupakan warisan sunnatullah sejak dimulainya dakwah ini, dan sunnatullah itu tidak akan berubah.

Maka ketika melihat apa yang terjadi di tanah air hari ini, sepertinya tidak jauh beda dengan apa yang dialami oleh pengusung kebangkitan Islam di Mesir. Panggung dan suasananya mungkin beda. Tapi skanario tak akan jauh beda. Jika diibaratkan bola, para pemain sedang berjibaku dengan waktu untuk bisa menciptakan gol dan mengalahkan tim lawan. Maka saat ini kita sedang berpacu dengan waktu memperebutkan sebuah momentum besar yang akan terjadi dalam waktu dekat. Momentum kebangkitan.Yang kuat bertahan, yang bisa membaca situasi dan pintar merebut momentum, maka dialah yang akan menang. Terlalu fokus dengan kaki lawan akan membuat kita lupa mengontrol arah bola.

Kemenangan kita bukan karena banyak yang memuji dan menepuk tangani, tapi sebesar apa obsesi dan kesabaran kita berbuat lebih banyak. Biarkan orang-orang yang tidak senang berteriak sesuka mereka karena mereka mungkin dipekerjakan untuk itu. Dan kita tetap fokus dengan target kebangkitan yang sedang kita perjuangkan. Barangkali kita sedang ditempa untuk lebih siap memikul tugas besar ini. Intinya bagaimana menjadikan pukulan sebagai pemacu. Selama kita masih yakin bahwa sedang memperjuangkan sebuah kebenaran.

Tatkala kebenaran datang, kebatilan pasti akan hancur. Pasti.
Wallahu a'lam.

Kairo, 11 Mei 2013

|*Mahasiswa Universitas Al Azhar | Pengamat Timur Tengah, Pusat Kajian Informasi Alam Islami (SINAI) Mesir

Kamis, 28 Juni 2012

"Black Campaign" Setelah Pemilu

"Beginilah cara orang yang benci menyebarkan fitnah dan menjelek-jelekkan orang lain".

Kairo- Dr. Mahmud Ghuzlan, juru bicara Ikhwanul Muslimin, dalam siaran persnya menyatakan,
"Ikhwanul Muslimin tengah menghadapi usaha black campaigne yang disengaja, dengan adanya beberapa orang yang melakukan tindakan anarkis terhadap para ibu, pemudi, dan toko tata rambut perempuan dengan alasan "An-nahyu 'anil mungkar dan amru bil ma'ruf". Para pelaku mengklaim bahwa mereka adalah anggota Ikhwanul Muslimin.

Pihak Ikhwanul Muslimin menyatakan ketidakterkaitan mereka dengan kejadian ini. Diketahui bahwa mereka adalah bagian dari golongan tertentu yang berusaha menjelekkan dan mencemarkan nama baik Ikhwanul Muslimin.

Ikhwan sendiri membangun manhaj dakwah mereka dengan cara yang baik dan penuh hikmah, dan menolak kekerasan, tindakan anarkis, perusakan, dan pemaksaan. Adapun "al-amru bil ma'ruf dan an-nahyu anil mungkar bil yad" adalah kewajiban pemerintah dan bukan perorangan. Kalau setiap orang bisa melakukan hal ini, maka hal itu akan menimbulkan kekacauan di mana-mana.


Ikhwanul Muslimin
Kairo, 8 Sya'ban 1433
28 Juni 2012.