Ranah

Ratok taragak dari rantau

Laba-laba

Together, everywhere, forever..

Be happy

Ceria mengejar impian.. tetap optimis walau jalan masih berdebu

Revolution

Menyaksikan sisa-sisa Revolusi Mesir di Tahrir Square

BBM club

Belajar,Berbagi, Mumtaz | Korean view - International Park

Sejarah kita tak bisa lepas dari orang, bangunan, dan tradisi. Di dalamnya kita temukan nilai-nilai, pola hubungan, budaya, dan juga peradaban. Pada ketiganya kita menyandarkan sebagian besar proses bertumbuh dalam hidup. Sebab hidup, adalah soal bercermin dari masa lalu dan masa sekarang, untuk masa depan. Oleh karena itu, Al Qur'an menyuruh kita berjalan, agar mata lebih terbuka, agar kita mau berpikir, mengambil pelajaran, dan mengerti. Maka, "Lihat Bangunan, Orang, dan Tradisi Negeri lain" #tarbawi 295
Tampilkan postingan dengan label Tadabbur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tadabbur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Januari 2021

InspirasiQu - 2; Alhamdulillahi ‘ala Kulli Haal

 

Seri Inspirasi Al Qur'an
Tadabbur Surat Al Fatihah ayat: 2

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Lafaz  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  merupakan manifestasi dari kesyukuran yang telah diajarkan oleh Allah SWT untuk hamba-Nya. Karena kita sudah diberikan kehidupan yang berlimpah nikmat dan kasih sayang Allah SWT dalam segala hal. 

Lafaz  الْحَمْدُ لِلَّهِ  menurut Imam Jalaluddin Al Mahalli , pengarang kitab Tafsir Jalalain, merupakan kalimat khabar yang maksudnya adalah segala bentuk pujian hanya ditujukan untuk Allah, bahwa Dia lah pemilik segala bentuk pujian dan sanjungan dari makhluknya, atau zat yang berhak untuk dipujibermakna pujian atas segala kesempurnaan sifat Allah dan atas segala kekuasaannya memberikan kebaikan dan keadilan atas makhluk-Nya, sehingga Dia lah yang layak mendapatkan segala bentuk pujian dan sanjungan tersebut. 

Selanjutnya kalimat رَبِّ الْعَالَمِينَ, yang terdiri dari kata رَبِّ dan الْعَالَمِينَ … berarti Dia lah pemilik seluruh ciptaan-Nya, seperti manusia, jin, malaikat, binatang, dan seluruh makhluk lainnya.  

As-Sa’adi menyebutkan dalam tafsirnya, lafaz رَبِّ َ  bermakna murabbi bagi seluruh alam. Dia yang menciptakan semua makhluk, menyediakan perangkat-perangkat kehidupan, dan memberikan mereka nikmat-nikmat yang agung, yang jika nikmat atau perangkat itu hilang maka makhluk tersebut tidak akan bisa bertahan hidup. 

Ada 2 bentuk tarbiyah Allah atas makhluknya; 

  • Tarbiyah secara umum, yaitu Menciptakan seluruh makhluk, memberi rezeki, dan memberikan petunjuk dan ilham bagi mereka untuk bisa memperoleh maslahat bagi kehidupannya. 
  • Tarbiyah secara khusus, berupa bimbingan untuk hamba-hamba pilihan-Nya, seperti; membimbingnya kepada keimanan, memberikan taufiq (kemudahan) bagi makhluknya untuk bisa mencapai keimanan tersebut, menyempurnakan keimanan, mencegah dari hal-hal yang bisa menggelincirkan atau menjauhkan mereka dari Allah.

Jadi secara umum, kita fahami bahwa ucapan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ merupakan perasaan yang melimpah yang masuk ke dalam hati seorang mukmin, semata-mata karena ingat kepada Allah dengan segala nikmat dan karunianya. 

Adapun manusia tidak berhak atas segala pujian dan sanjungan, karena semuanya adalah milik Allah SWT. Sementara pujian-pujian yang didapatkan dari makhluk terkadang hanya disebabkan Allah masih menutupi aib-aib yang ada. 

Demikian juga tidak perlu risau karena pujian manusia, atau tidak mendapatkan apresiasi dari manusia. Cukuplah Allah yang akan memberikan nilai dari setiap amalan kita. Jika kita memahami hal ini, selamatlak kita dari sifat riya, sum’ah dan takabbur. 

Ada beberapa keutamaan kalimat pujian kepada Allah;

  • Ucapan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  setiap memulai dan mengkahiri suatu pekerjaan merupakan salah satu kaidah tashawur Islami. 

    وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ ۖ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

    Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya-lah segala penentuan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (Qs. Al Qashash 70)
  • Memuji Allah menjadi motivasi agar kita senantiasa mengingat Allah. Karena kita senantiasa memahami keagungan dan keluasang kasih sayang Allah bagi semua makhluk-Nya.
  • Selain itu memuji Allah akan mendatangkan pahala kebajikan bagi yang membacanya. 

Diriwayatkan di dalam sunan Ibnu Majah dari Ibnu Umar r.a bahwa Rasulullah saw. bercerita kepada mereka

أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - حدثهم أن عبدا من عباد الله قال: "يا رب لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك" فعضلت الملكين فلم يدريا كيف يكتبانها. فصعدا إلى الله فقالا: يا ربنا، إن عبدا قد قال مقالة لا ندري كيف نكتبها. قال الله - وهو أعلم بما قال عبده - : "وما الذي قال عبدي؟" قالا: يا رب، أنه قال: لك الحمد يا رب كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك. فقال الله لهما: " اكتباها كما قال عبدي حتى يلقاني فأجزيه بها" ..


“Bahwasanya salah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah mengucapkan, "يا رب لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك".  (ya Tuhanku, kepunyaan-Mulah segala puji sebagaimana yang layak bagi keluhuran-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu). 'Maka, ucapan ini menjadikan kedua malaikat bingung sehingga mereka tidak tahu bagaimana yang harus mereka tulis. Maka, naiklah keduanya kepada Allah, lalu berkata, 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya seorang hamba telah mengucapkan suatu perkataan yang kami tidak tahu bagaimana kami harus mulanya. ”Allah bertanya padahal Dia Maha Mengetahui apa yang diucapkan oleh hamba Nya, 'Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku' Mereka menjawab, 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya dia mengucapkan, " لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك".. 'Kemudian Allah berfirman kepada mereka, ‘tulislah sebagaimana yang diucapkan hamba-Ku itu hingga dia bertemu Aku, maka Aku yang akan membalasnya. '” 

Wallahu a’lam


Referensi:

  • Al Qur’anul Karim dan terjemahannya
  • Tafsir Jalalain (Jalaluddin Al Mahally dan Jalaluddin As-Suyuthi
  • Tafsir Fii Zhilalil Qur’an (Sayid Quthb)
  • Tafsir As-Sa’adi ( Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di) 


InspirasiQu-1; Awali dengan Basmalah

Seri Inspirasi Al Qur'an
Tadabbur Surat Al Fatihah ayat: 1 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

Surat Al Fatihah, atau Ummul Kitab, atau yang disebut juga dengan Sab’ul Matsani (7 ayat yang selalu diulang-ulang) diawali dengan lafaz Bismillahirrahmanirrahim. Meskipun terdapat perbedaan pandangan para ulama tentang lafaz bismillah ini, apakah termasuk salah satu ayat dari surat Al Fatihah, atau hanyalah sebagai membuka atau pembatas antar surah dengan surah lainnya.  Namun pendapat yang lebih kuat menyebutkan bahwa Bismillah merupakan salah satu ayat dari surah Al Fatihah.

Arti lafaz بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ  secara makna bahasa adalah dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Lafaz  بِسْمِ اللَّهِ  menurut As Sa’adi, maknanya adalah memulai dengan setiap nama Allah, karena Allah memiliki banyak nama-nama yang baik (amaa ul husna). Sementara الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  merupakan dua nama Allah yang agung, yang menunjukkan ke-Maha Luas-an pengasih dan penyayang-Nya atas semua makhluk.

Sayid Quthub dalam kitab tafsir Fii Zhilaalil Qur’an menyebutkan, bahwa memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah merupaka adab yang diajarkan Allah kepada nabi-Nya, sesuai dengan wahyu pertama turun,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah. Dengan menyebut nama Tuhan-mu..”

Hal ini menjadi sebuah pemahaman yang fundamental bagi kita sebagai seorang beriman, bahwa menjadikan Allah sebagai sandaran suatu amalan adalah perkara wajib. Kita meyakini bahwasanya “Allah-lah yang Pertama dan Terakhir, yang Maha Nyata dan Maha Tersembunyi”. Maka ketika kita menjadikan nama  Allah sebagai andalan kita dalam memulai hal apapun, dan Allah sebagai tujuannya, maka rahmat, perlindungan, pertolongan dan kasih saying-Nya akan menyertai langkah kita. Dia akan menuntun kita kepada sesuatu yang baik, yang akan membawa kita kepada keselamatan dan kebahagiaan.

Sebaliknya meninggalkan Allah, tidak mengawali suatu perkara penting dengan nama Allah, akan membuat amalan tersebut terputus berkahnya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.” (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami’, dari jalur Ar-Rahawai dalam Al-Arba’in, As-Subki dalam tabaqathnya)

Maka memulai sesuatu dengan bismillah, bararti kita telah menyambungkan suatu amalan dengan tujuan hakikinya, mengantarkan kita kepada rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT. Karena Allah Maha Rahman dan Maha Rahiim. Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Hanya Dia lah yang menghimpun dua sifat mulia tersebut.

Tatkala seseorang memulai pekerjaan baik nya dengan nama Allah, berarti ia sudah melakukan salah satu bentuk bentuk tawakkal terpenting. Artinya, ia menyadari bahwa tidak ada satupun makhluk yang bisa diandalkan, bahkan dirinya sendiri sekalipun, kecuali Allah lah zat yang bisa menjamin amalan tersebut sampai.

Maka mari kita jemput keberkahan hidup ini dengan senantiasa menghadirkan Allah dalam segala hal. Mari andalkan Allah saja. Karena rahmat dan kasih sayang-Nya maha luas. Wallahu a’lam.



Referensi:

  • Al Qur’anul Karim dan terjemahannya
  • Tafsir Jalalain (Jalaluddin Al Mahally dan Jalaluddin As-Suyuthi
  • Tafsir Fii Zhilalil Qur’an (Sayid Quthb)
  • Tafsir As-Sa’adi ( Abdurrahman bin Nashir As-Sa’adi)

Senin, 24 Juni 2019

Penjara Mesir yang Allah Abadikan 3

Bismillahirrahmanirrahim,

Penjara akhirnya menjadi pilihan Yusuf as demi menyelamatkan diri dari tipu daya Zulaikha. Adapun keluarga istana menganggapnya sebagai tameng penyelamat dari rasa malu. Namun di kemudian hari kebenaran terungkap jua. Zulaikha mengakui kekeliruan ambisi cintanya pada Yusuf.

Di penjara, Yusuf ternyata Allah persiapkan menjadi orang besar. Ia masuk penjara, bersamanya ada dua pemuda, yang juga  yang konon adalah pelayan al-Aziz.

وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ ۖ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا ۖ وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur". Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung". Berikanlah kepada kami ta'birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi).

Yusuf as Allah berikan kelebihan berupa ilmu takwil mimpi. Di penjara inilah ia kemudian menakwilkan mimpi dua lelaki pelayan al-Aziz. Dari mimpi ini kemudian mengantarkan Yusuf ke istana. Mereka yang tadinya penganut agama paganisme, -keyakinan warga Mesir saat itu- menemukan cahaya kebenaran lewat dakwah Yusuf selama di penjara. 

Ini menjadi hikmah besar di kemudian hari, dan akhirnya membuka mata banyak orang, bangsawan istana,  dan saudara-saudaranya yang dulu membuangnya ke sumur.

Yusuf, yang dipenjara bukan karena kesalahan, menemukan ladang dakwah baru, penjara. Dia menemukan banyak diantaranya dipenjara tanpa alasan yang jelas. Yusuf memainkan perannya. Ia tak putus asa atau meratap dan meminta belas kasihan lantaran merasa 'baper' karena terzalimi.

Di penjara, ia mengenalkan diri, agamanya, dan menceritakan karunia Allah untuk hambanya.

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). (Qs. Yusuf: 38)

Kemudian barulah Yusuf meluruskan pemahaman mereka tentang ketuhanan. Tuhan mana yang layak untuk disembah, tuhan-tuhan yang mereka ciptakan, ataukah Tuhan yang telah menciptakan mereka dan berkuasa atas kehidupan? 

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? (Qs. Yusuf: 39).

Melalui dakwah Yusuf inilah, hati mereka yang selama ini tertutup menjadi terbuka. Mereka yang sudah lama putus asa akibat kezaliman, kembali menemukan harapan.

Inilah penjara Yusuf. Penjara yang orang-yang merdeka dari penghambaan kepada taghut Mesir. Di sini banyak orang-orang baik menghabiskan hidupnya. Banyak orang yang memilih untuk teguh dengan kebenaran. Tak sedikit yang menemukan kebenaran di balik jeruji-jeruji kezaliman. Mereka sesungguhnya Merdeka. Wallahu a'lam





Jumat, 21 Juni 2019

Penjara Mesir yang Allah Abadikan - 2

Bismillahirrahmanirrahim

Reputasi dan obsesi Zulaikha, istri penguasa Mesir, al-Aziz membuat Yusuf dipenjara.  Skandal rayuannya terhadap anak angkatnya itu tersebar begitu cepat di seantero Mesir. Zulaikha menjadi bahan gunjingan. Aib tercoreng di wajah wanita terpandang istana al-Aziz. 

Ditambah lagi kesumat hati Zulaikha, lantaran Yusuf tak mau mengikuti keinginannya. Ia menilai Yusuf benar-benar tak tahu diri. Maka dalam 2 momen berbeda ia bertekad akan memenjarakan Yusuf, hanya sekedar pamer bahwa ia harus dihormati dan ditaati. Sudah kita bahas pada bagian 1.

Akan tetapi skandal ini benar-benar membuat pihak istana tidak bisa tidur. Akhirnya dihadirkan saksi untuk membuktikan siapa sebetulnya yang bersalah. Tentu saja mereka berharap nama baik Zulaikha bisa dilindungi dan Yusuf bersalah. 

Tapi kenyataannya justru berbeda. Baju Yusuf robek di bagian belakang, artinya Zulaikha yang bersalah. Dialah yang memperdaya Yusuf. Kebenaran menjadi terang. Semua yang mengikuti 'persidangan' tak bisa menolak kenyataan ini. 

Namun demi menyelamatkan harga diri keluarga istana, dan membungkam gosip di luar, mereka sepakat bahwa Yusuf tetap harus dipenjara. Harapannya adalah untuk membentuk opini publik, bahwa Yusuf terbukti bersalah dan ia dipenjarakan. Inilah manipulasi hukum yang dipaksakan, dan disetujui bersama-sama. Dan hakim yang memutuskan tahu kalau Yusuf terbukti tak bersalah. Tapi mereka tak berdaya, demi reputasi.

Allah SWT berfirman: 

ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّىٰ حِينٍ

Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu. (Qs. Yusuf: 35)

Dalam ayat ini terdapat setidaknya terdapat 3 poin penting: 

Pertama: Setelah melihat bukti-bukti yang nyata bahwa Yusuf tak bersalah, penguasa dan para menterinya berfikir keras untuk menutupi fakta yang sudah mereka lihat. Inilah karakter peradilan ala para diktator. Keputusan harus sesuai dengan apa yang mereka inginkan, sementara bukti harus menyesuaikan dengan selera penguasa. 

Kedua: Walau bagaimanapun, Yusuf tetap harus dipenjarakan. Sekalipun ia terbukti tak bersalah. Tapi ini demi menjaga martabat dan ego penguasa. Apa kata dunia? 

Benar, bahwa ini semua adalah skenario yang telah disiapkan Allah untuk menjaga kemuliaan hambanNya, Yusuf, as. Namun ini adalah pelajaran penting untuk manusia hingga akhir zaman. Ketika hukum menjadi alat kekuasaan, dan diputuskan oleh orang-orang yang memiliki 'kepentingan' , maka ia tidak akan mampu mewakili dan membela kebenaran. Apalagi yang menjadi objek bukan siapa-siapa. Maka inilah yang terjadi hingga hari ini. Hukum tumpul ke atas, dan tajam ke bawah.

Ketiga: Masa tahanan yang unlimited. Makna kalimat حَتَّىٰ حِينٍ menurut imam Qurthubi adalah: sampai waktu yang tidak ditentukan. Dalam hal ini para ulama tafsir memiliki perbedaan pandangan. 

Menurut Ibnu Abbas ra, kalimat حَتَّىٰ حِينٍ maksudnya adalah sampai desas-desus yang berkembang di publik berhenti, atau dilupakan. 

Sementara Sa'id bin Jubair berpendapat bahwa waktu yang dimaksud adalah 6 bulan. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan 13 bulan, 9 tahun, 5 tahun, atau 7 tahun. 

Jika merujuk kepada pendapat yang dikemukakan oleh Qurthubi dan Ibnu Abbas, maka batasnya adalah sampai semua orang melupakan apa yang terjadi. Tentu saja ini adalah waktu yang sangat lama, karena yang terlibat adalah pembesar istana yang memiliki kekuasaan tanpa batas waktu.

Jadi tidak ada kepastian hukum. Lantaran hukum hanya menjadi alat kekuasaan para diktator dan masyarakat kelas atas. 

Kondisi ini bahkan masih terjadi hingga sekarang. Banyak yang sebetulnya tak bersalah, tapi dipaksakan menjalani hukuman, hanya karena mereka dinilai 'membahayakan' kepentingan tirani. Dengan berbagai dakwaan yang diada-adakan mereka akhirnya mendekam di penjara sampai waktu yang tidak ditentukan. 

Sekali lagi, Allah SWT tentu tidak akan menceritakan suatu perkara dalam Al Qur'an melainkan menjadi pelajaran penting bagi manusia sepanjang zaman. Wallahu a'lam


Kamis, 20 Juni 2019

Penjara Mesir Yang Allah Abadikan -1

Bismillahirrahmanirrahim,

Satu-satunya penjara dunia yang diabadikan penyebutannya oleh Allah SWT dalam Al Qur'an adalah penjara Mesir. Dalam bahasa Arab, penjara disebut dengan سجن. Allah SWT menyinggungnya dalam Al Qur'an sebanyak 10 kali. Sembilan kali Allah sebutkan dalam surat Yusuf dan satu kali dalam surat Asy-Syu'ara. 

Dalam kisah Al Qur'an tentang penjara Mesir ini, Allah pilihkan dua tokoh istimewa, nabi-Nya Yusuf dan Musa 'alaihimassalam. Kisah mereka berdua kemudian mengabadi, menjadi memoar yang tetap bisa kita baca dan saksikan hingga hari ini.

Adapun pengulangan penyebutan penjara dengan berbagai bentuk redaksinya, ternyata juga merupakan salah satu mu'jizat Al Qur'an. Allah menggambarkan begitu rinci tentang seluk kehidupan penjara Mesir, tentang orang-orang yang menghuninya dan tentang kediktatoran para penguasa sepanjang zaman.

Dari sini kita akan semakin yakin betapa kuat diksi bahasa Al Qur'an dan maha luas ilmu Allah. Semua itu agar kita mau mengambil ibrah.

Sekarang mari kita simak bagaimana Al Qur'an menceritakan. Allah SWT berfirman:

قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَن يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (Qs. Yusuf: 25)

Adalah Zulaikha, istri pembesar Mesir yang jatuh cinta kepada anak angkatnya Yusuf. Ia tidak mampu mengendalikan perasaannya hingga ia nekat menjebak Yusuf untuk mengikuti hasratnya, mengkhianati suaminya. Namun Yusuf segera berlindung kepada Allah dan berlari menuju pintu keluar. Yusuf berhasil mencapai pintu yang sebelumnya sudah ditutup rapat oleh Zulaikha, dan Zulaikha berhasil menarik bajunya dari belakang hingga robek. Namun pada waktu bersamaan suaminya datang membuka pintu dan memergoki apa yang terjadi.

Dalam kondisi ini Yusuf hanyalah seorang anak angkat yang diselamatkan dari sumur dan dibesarkan oleh al-Aziz (pembesar) Mesir. Ia tak punya kuasa untuk membela diri, kecuali Allah sebagai pembelanya, dan ia menyadari hal itu sehingga ia memilih 'berlari' kepada-Nya dari godaan Zulaikha. 

Sementara di sisi lain, Zulaikha juga sadar betul siapa dirinya. Ia adalah seorang bangsawan, istri penguasa, punya kekuasaan di istana itu dan tentu saja tak ingin reputasinya hancur di hadapan suaminya dan Yusuf, sang anak angkat. Maka, sifat diktatornya pun muncul. Ia pun menggunakan ancaman 'penjara' demi melindungi harga diri dan obsesinya.

Ia pun mengulangi ancaman yang sama di hadapan para wanita Mesir, setelah mereka terpukau melihat ketampanan Yusuf dan menerima alasan kuat ketertarikan Zulaikha. Tanpa sadar telah melukai jari-jari mereka sendiri. Zulaikha pun berkata, sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَلَئِن لَّمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُوناً مِّنَ الصَّاغِرِين

Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina” (Qs. Yusuf: 32)

Ancaman penjara Zulaikha untuk memuluskan obsesinya. Ini kemudian Allah abadikan, dan ternyata inilah yang menjadi karakter warisan para diktator Mesir sepanjang sejarah. Mereka menggunakan ancaman yang sama bagi siapapun yang dianggap menghalangi kepentingannya. Mereka berfikir bahwa dengan cara ini mereka akan ditakuti dan ditaati.

Dan memang, jiwa-jiwa yang kerdil dan haus akan kehormatan akan ketakutan dengan ancaman ini. Namun tidak berlaku bagi Yusuf, lelaki bergelar as-shiddiq (yang jujur keimanannya pada Allah).

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. (Qs. Yusuf: 33)

Akhirnya orang-orang yang jujur keimanannya pada Allah dan mencintai kehidupan akhirat, lebih memilih dipenjara, daripada ikut dengan segala tipu daya dan kemuliaan duniawi. Inilah Yusuf yang kemudian Allah abadikan dengan gelar as-shiddiq. 

Inilah keunikan penjara-penjara Mesir. Sepanjang sejarah hingga hari ini, sebagiaanya dipenuhi oleh orang-orang baik, yang rela dipenjara dan disiksa bukan karena kejahatannya, namun lantaran tak mau ikut dengan penguasanya. Dan ajaibnya lagi para penguasa dan hakim yang menjebloskan para tahanan tersebut mengetahui bahwa yang mereka penjarakan memang tidak bersalah. Mereka tidak mau diatur dan tidak pro dengan kepentingannya. Itu saja.


Tapi inilah barangkali 'kutukan' untuk mereka, lantaran mengabaikan kebenaran dan menjual kebenaran demi setetes gengsi duniawi. Hingga mereka dengan suka rela mewarisi karakter buruk, kediktatoran nenek moyang mereka, para Fir'aun dan kaki tangannya. Wallahu a'lam

-Bersambung


Jumat, 24 Mei 2019

Tadabbur: Mereka yang Berakal Sehat


Bismillahirrahmanirrahim.

Mari kita renungi firman Allah dalam QS Ar Ra'd berikut:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ 

19. Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

Dalam Al Qur'an, sebanyak 16 kali Allah menyebutkan lafaz Ulul Albab. Ulul Albab adalah orang yang memiliki akal (yang sehat), yang dengan akalnya tersebut akan mengantarkannya kepada jalan kebenaran dan ketaatan pada perintah Allah SWT, dengan memikirkan hakikat penciptannya dimuka bumi.

Siapakah mereka? Mereka adalah:


الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ

20.    (yaitu) orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian,

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

21.  dan orang-orang yang menghubungkan apa yang perintahkan Allah agar dihubungkan,419 dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

22.   Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

Ulul albab itu ialah:
a)   Memenuhi janjinya mentauhidkan Allah.
b)   Menyambungkan tali persaudaraan (kerabat).
c)   Takut pada Allah dan hari perhitungan (kiamat).
d)   Sabar dalam mencari keridhaan Allah.
e)   Menunaikan shalat
f)    Berinfak secara rutin.
g)   Membalas kejahatan dengan kebaikan.

Mereka akan meraih balasan surga Adn bersama orang tua, istri, dan anak cucu mereka yang beriman dan beramal saleh. Para malaikat memasukkan mereka melalui tiap-tiap pintu surga sambi mengucapkan selamat disebabkan kesabaran mereka menjalankan agama Tauhid (Islam). Sedangkan orang-orang yang merusak janji mereka untuk mentauhidkan Allah, memutuskan tali persaudaraan dan melakukan kerusakan di atas bumi, bagi laknat Allah dan akan dimasukkan ke dalam neraka.

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَيَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

23. (yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;

Kepada mereka diberikan berbagai kesenangan yang pernah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, bahkan lebih daripada itu. Mereka masuk ke dalam syurga dengan sambutan yang hangat dari penjaganya;

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

24.   (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.


Rabu, 22 Mei 2019

Tadabbur: Doa dan Istijabah

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillah, segala puji kita haturkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta'ala yang senantiasa memberikan naungan rahmat dan bimbingannya untuk kita. Sehingga dengannya kita dapat menjalankan tugas kita sebagai pengabdi-Nya.

Selanjutnya shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasul junjungan kita, kekasih-Nya, manusia terpilih, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Dalam Al Qur'an surat Al Baqarah: 186 Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Aku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. 

Allah  subhanahu wa ta'ala dalam ayat ini menegaskan kepada kita betapa dekatnya Dia dengan hamba-Nya. Allah SWT menggunakan kata "hamba-Ku" sebagai isyarat kedekatan. 

Pada beberapa ayat dalam Al Qur'an kita menemukan kata 'abd yang digandengkan dengan nama Allah, atau Ar Rahman, menunjukkan pujian dan pemuliaan bagi hamba tersebut. Mereka adalah para nabi, atau hamba-hamba Allah yang shalih. Ia mendengar setiap doa hamba-Nya setiap kali mereka berdoa. Begitu jelas Allah menyebutkan hal tersebut dalam firman-Nya.

Persoalannya bukan pada keterkabulannya doa yang kita panjatkan. Karena ini adalah hak preogatifnya Allah. Kalau semua syarat terkabulnya doa sudah kita penuhi dan kita laksanakan dengan baik, maka kita hanya diperintahkan untuk bertawakal. Serahkan semuanya kepada Allah, sambil memaksimalkan ikhtiar, sejalan dengan doa kita. 

Persoalan kita sebetulnya adalah pada potongn ayat berikutnya:فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي  (maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Aku ). Persoalnnya muncul di sini. 

Istijabah di sini sering diartikan dengan ta'at kepada Allah, melaksanakan segala perintah Allah, dan berdoa kepada-Nya. Dalam mentaati Allah, tentu sangat berkaitan dengan segala seruan Allah dalam Al Qur'an, termasuk para nabiNya. Nah, Seperti apa kita merespon semua seruan Allah? Sudahkah kita maksimal dan bersungguh-sungguh melaksanakan kewajiban dari Allah, dan meninggalkan semuruh larangannya. 

Kita sering kali merasa cukup dan selesai dengan kewajiban yang kita tunaikan dengan apa adanya dan separuh hati. Atau bahkan kita mengharapkan balasan yang besar, sementara amalannya tidak sebanding dengan apa yang kita harapkan. Memang benar, Allah akan lipat gandakan nilai setiap kebaikan yang  kita lakukan. Tapi bukan berarti kita kemudian memilih amalan yang minimal. Tetap saja mererka yang amalannya besar akan lebih berhak untuk nilai pahala yang lebih besar juga. Tapi yang lebih penting adalah "kualitas" amalan yang kita lakukan. Memperhatikan syarat, rukun, dan aspek "ihsan" kita dalam setiap amalan. Hal ini menuntut kita melakukan ibadah dengan sempurna dan baik, bukan ibadah yang separuh hati atau asal kewajiban telah gugur.

Bukankah Allah senantiasa menguji siapa di antara kita yang terbaik amalannya? 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Qs. Al Mulk: 2)


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم قال: "الْقُلُوبُ أَوْعِيَةٌ، وَبَعْضُهَا أَوْعَى مِنْ بَعْضٍ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ فَاسْأَلُوهُ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ، فَإِنَّهُ لَا يَسْتَجِيبُ لِعَبْدٍ دَعَاهُ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ غَافِلٍ"

Hati manusia itu bagaikan wadah, sebagian di antaranya lebih memuat daripada sebagian yang lain. Karena itu, apabila kalian meminta kepada Allah, hai manusia, mintalah kepada-Nya, sedangkan hati kalian merasa yakin diperkenankan; karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan bagi hamba yang berdoa kepada-Nya dengan hati yang lalai.

Lalu Allah melanjutkan, وَلْيُؤْمِنُوا بِي (dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku). Maksudnya adalah senantiasa meyakini bahwa Allah mendengar dan akan mengabulkan doa kita tersebut. Sehingga dengan keyakinian ini kita harus menolak segala bentuk kesyirikan. Orang-orang jahiliyah dalam berdoa kepada Allah, mereka menggunakan media berhala, dengan harapan berhala itu akan menyampaikan segala pintanya kepada Allah. 

Rasulullah SAW bersabda,  

فَاسْأَلُوهُ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ، فَإِنَّهُ لَا يَسْتَجِيبُ لِعَبْدٍ دَعَاهُ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ غَافِلٍ

mintalah kepada-Nya, sedangkan hati kalian merasa yakin diperkenankan; karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan bagi hamba yang berdoa kepada-Nya dengan hati yang lalai.  

Selain itu kita juga harus beriman dan berprasangka baik kepada Allah dalam setiap doa kita. Jangan buru-buru memutuskan sebelum Allah memberikan jawaban atas doa kita. Ada orang yang sudah berdoa siang malam terhadap suatu hajat, namun ketika doanya belum dikabulkan ia putus asa dan tidak lagi berdoa kepada Allah. 

" ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حتى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ دُونَ الْغَمَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَيَقُولُ: بعزتي لأنصرنك ولو بعد حين"
Ada tiga macam orang yang doanya tidak ditolak, yaitu imam yang adil, orang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang teraniaya diangkat oleh Allah sampai di bawah gamam (awan) di hari kiamat nanti, dan dibukakan baginya semua pintu langit, dan Allah berfirman, "Demi kemuliaan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu, sekalipun sesudahnya.

Wallahu a'lam 
Al Faqiir, Harun Al Rasyid