Ranah

Ratok taragak dari rantau

Laba-laba

Together, everywhere, forever..

Be happy

Ceria mengejar impian.. tetap optimis walau jalan masih berdebu

Revolution

Menyaksikan sisa-sisa Revolusi Mesir di Tahrir Square

BBM club

Belajar,Berbagi, Mumtaz | Korean view - International Park

Sejarah kita tak bisa lepas dari orang, bangunan, dan tradisi. Di dalamnya kita temukan nilai-nilai, pola hubungan, budaya, dan juga peradaban. Pada ketiganya kita menyandarkan sebagian besar proses bertumbuh dalam hidup. Sebab hidup, adalah soal bercermin dari masa lalu dan masa sekarang, untuk masa depan. Oleh karena itu, Al Qur'an menyuruh kita berjalan, agar mata lebih terbuka, agar kita mau berpikir, mengambil pelajaran, dan mengerti. Maka, "Lihat Bangunan, Orang, dan Tradisi Negeri lain" #tarbawi 295

Jumat, 24 Mei 2019

Tadabbur: Mereka yang Berakal Sehat


Bismillahirrahmanirrahim.

Mari kita renungi firman Allah dalam QS Ar Ra'd berikut:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ 

19. Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

Dalam Al Qur'an, sebanyak 16 kali Allah menyebutkan lafaz Ulul Albab. Ulul Albab adalah orang yang memiliki akal (yang sehat), yang dengan akalnya tersebut akan mengantarkannya kepada jalan kebenaran dan ketaatan pada perintah Allah SWT, dengan memikirkan hakikat penciptannya dimuka bumi.

Siapakah mereka? Mereka adalah:


الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ

20.    (yaitu) orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian,

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

21.  dan orang-orang yang menghubungkan apa yang perintahkan Allah agar dihubungkan,419 dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

22.   Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

Ulul albab itu ialah:
a)   Memenuhi janjinya mentauhidkan Allah.
b)   Menyambungkan tali persaudaraan (kerabat).
c)   Takut pada Allah dan hari perhitungan (kiamat).
d)   Sabar dalam mencari keridhaan Allah.
e)   Menunaikan shalat
f)    Berinfak secara rutin.
g)   Membalas kejahatan dengan kebaikan.

Mereka akan meraih balasan surga Adn bersama orang tua, istri, dan anak cucu mereka yang beriman dan beramal saleh. Para malaikat memasukkan mereka melalui tiap-tiap pintu surga sambi mengucapkan selamat disebabkan kesabaran mereka menjalankan agama Tauhid (Islam). Sedangkan orang-orang yang merusak janji mereka untuk mentauhidkan Allah, memutuskan tali persaudaraan dan melakukan kerusakan di atas bumi, bagi laknat Allah dan akan dimasukkan ke dalam neraka.

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَيَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

23. (yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;

Kepada mereka diberikan berbagai kesenangan yang pernah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, bahkan lebih daripada itu. Mereka masuk ke dalam syurga dengan sambutan yang hangat dari penjaganya;

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

24.   (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.


Rabu, 22 Mei 2019

Tadabbur: Doa dan Istijabah

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillah, segala puji kita haturkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta'ala yang senantiasa memberikan naungan rahmat dan bimbingannya untuk kita. Sehingga dengannya kita dapat menjalankan tugas kita sebagai pengabdi-Nya.

Selanjutnya shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasul junjungan kita, kekasih-Nya, manusia terpilih, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Dalam Al Qur'an surat Al Baqarah: 186 Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Aku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. 

Allah  subhanahu wa ta'ala dalam ayat ini menegaskan kepada kita betapa dekatnya Dia dengan hamba-Nya. Allah SWT menggunakan kata "hamba-Ku" sebagai isyarat kedekatan. 

Pada beberapa ayat dalam Al Qur'an kita menemukan kata 'abd yang digandengkan dengan nama Allah, atau Ar Rahman, menunjukkan pujian dan pemuliaan bagi hamba tersebut. Mereka adalah para nabi, atau hamba-hamba Allah yang shalih. Ia mendengar setiap doa hamba-Nya setiap kali mereka berdoa. Begitu jelas Allah menyebutkan hal tersebut dalam firman-Nya.

Persoalannya bukan pada keterkabulannya doa yang kita panjatkan. Karena ini adalah hak preogatifnya Allah. Kalau semua syarat terkabulnya doa sudah kita penuhi dan kita laksanakan dengan baik, maka kita hanya diperintahkan untuk bertawakal. Serahkan semuanya kepada Allah, sambil memaksimalkan ikhtiar, sejalan dengan doa kita. 

Persoalan kita sebetulnya adalah pada potongn ayat berikutnya:فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي  (maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Aku ). Persoalnnya muncul di sini. 

Istijabah di sini sering diartikan dengan ta'at kepada Allah, melaksanakan segala perintah Allah, dan berdoa kepada-Nya. Dalam mentaati Allah, tentu sangat berkaitan dengan segala seruan Allah dalam Al Qur'an, termasuk para nabiNya. Nah, Seperti apa kita merespon semua seruan Allah? Sudahkah kita maksimal dan bersungguh-sungguh melaksanakan kewajiban dari Allah, dan meninggalkan semuruh larangannya. 

Kita sering kali merasa cukup dan selesai dengan kewajiban yang kita tunaikan dengan apa adanya dan separuh hati. Atau bahkan kita mengharapkan balasan yang besar, sementara amalannya tidak sebanding dengan apa yang kita harapkan. Memang benar, Allah akan lipat gandakan nilai setiap kebaikan yang  kita lakukan. Tapi bukan berarti kita kemudian memilih amalan yang minimal. Tetap saja mererka yang amalannya besar akan lebih berhak untuk nilai pahala yang lebih besar juga. Tapi yang lebih penting adalah "kualitas" amalan yang kita lakukan. Memperhatikan syarat, rukun, dan aspek "ihsan" kita dalam setiap amalan. Hal ini menuntut kita melakukan ibadah dengan sempurna dan baik, bukan ibadah yang separuh hati atau asal kewajiban telah gugur.

Bukankah Allah senantiasa menguji siapa di antara kita yang terbaik amalannya? 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Qs. Al Mulk: 2)


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم قال: "الْقُلُوبُ أَوْعِيَةٌ، وَبَعْضُهَا أَوْعَى مِنْ بَعْضٍ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ فَاسْأَلُوهُ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ، فَإِنَّهُ لَا يَسْتَجِيبُ لِعَبْدٍ دَعَاهُ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ غَافِلٍ"

Hati manusia itu bagaikan wadah, sebagian di antaranya lebih memuat daripada sebagian yang lain. Karena itu, apabila kalian meminta kepada Allah, hai manusia, mintalah kepada-Nya, sedangkan hati kalian merasa yakin diperkenankan; karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan bagi hamba yang berdoa kepada-Nya dengan hati yang lalai.

Lalu Allah melanjutkan, وَلْيُؤْمِنُوا بِي (dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku). Maksudnya adalah senantiasa meyakini bahwa Allah mendengar dan akan mengabulkan doa kita tersebut. Sehingga dengan keyakinian ini kita harus menolak segala bentuk kesyirikan. Orang-orang jahiliyah dalam berdoa kepada Allah, mereka menggunakan media berhala, dengan harapan berhala itu akan menyampaikan segala pintanya kepada Allah. 

Rasulullah SAW bersabda,  

فَاسْأَلُوهُ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ، فَإِنَّهُ لَا يَسْتَجِيبُ لِعَبْدٍ دَعَاهُ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ غَافِلٍ

mintalah kepada-Nya, sedangkan hati kalian merasa yakin diperkenankan; karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan bagi hamba yang berdoa kepada-Nya dengan hati yang lalai.  

Selain itu kita juga harus beriman dan berprasangka baik kepada Allah dalam setiap doa kita. Jangan buru-buru memutuskan sebelum Allah memberikan jawaban atas doa kita. Ada orang yang sudah berdoa siang malam terhadap suatu hajat, namun ketika doanya belum dikabulkan ia putus asa dan tidak lagi berdoa kepada Allah. 

" ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حتى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ دُونَ الْغَمَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَيَقُولُ: بعزتي لأنصرنك ولو بعد حين"
Ada tiga macam orang yang doanya tidak ditolak, yaitu imam yang adil, orang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang teraniaya diangkat oleh Allah sampai di bawah gamam (awan) di hari kiamat nanti, dan dibukakan baginya semua pintu langit, dan Allah berfirman, "Demi kemuliaan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu, sekalipun sesudahnya.

Wallahu a'lam 
Al Faqiir, Harun Al Rasyid

Selasa, 25 November 2014

Doa Hati Serapuh Gelas

Rabb...
Andai hatiku ini sebuah gelas
Izinkan hatiku menampung dan dipenuhi tetesan embun keberkahanMu
Agar kubisa menatap kehidupan ini dengan jiwa yang bening
Agar tetesan itu mampu melepas dahagaku
Membersihkan debu-debu noda yang telah lama menutupi hati ini

Rabb...
Andai hati ini sebuah gelas
Jagalah ia agar tak retak
diterpa panas dingin ujian hidup ini

Ganuby, New Cairo 24 Juni 2009


Standar Sifat Fitrah Manusia

Manusia memiliki standar batasan sifat asal/ fitrahyang melekat kepada kepribadiannya. Apabila sifat tersebut melebihi batasstandar tersebut maka akan dianggap "melampaui batas". Namu apabila kurang dari batas normal tersebut maka akan dipandang kurang dan hina.

Di antara sifat asal tersebut adalah:

1.Marah
Marah merupakan sifat asal/fitrah manusia. Apabila sifat marah ini berada dalam ukuran standar (proporsional) maka akan dipandang sebagai sebuah keberanian yang terpuji. Marah akan menjadi senjata untuk mempertahankan dan membela sebuah kebenaran. Namun apabila ia melebihi batas standar / ditunjukkan dengan cara yang berlebihan maka akan membawa pemiliknya kepada tindakan zholim. Sementara apabilaia kurang /dibawah standar proporsional akan menjadikan seseorang pengecut dan tidak mampu membela diri.

2.Ambisi
Sifat ambisi adalah sebuah fitrah manusia yang berupa keinginan untuk memperoleh sesuatu. Sifat ini akan mendorong manusia untuk berusaha mendapatkan segala kebutuhan hidupnya. Apabila ambisi ini masih dalam ukuran normal dan standar maka akan menjadikan manusia merasa selalu berkecukupan untuk urusan dunia (qana'ah). Apabila sifat ini melebihi ukuran normal maka akan menjadikan manusia tamak kepada hal-hal yang tidak perlu. Namun apabila kurang dari batas normal akan menyebabkan manusia hina dan tidak bergairah dalam hidupnya.

3. Hasad
Hasad juga merupakan sifat asal manusia. Apabila sifat ini masih dalamb batasan normal, akan menjadi pendorong bagi manusia untuk berkompetisi dalam mencapai kesempurnaan. Hal ini mesupakan sesuatu yang baik dan terpuji. Bahkan Allah dan Rasul-Nya juga senantiasa mendorong kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbaiki diri dan mengejar peluang kebaikan sebanyak-banyaknya. Namun apabila sifat hasad ini melebihin batasnya, maka akan mendorong manusia berbuat zhalim,dengki dan ingin menghilangkan kebaikan tersebut dari orang lain.Sebaliknya seseorang akan mengalami penurunan  obsesi jiwa dan melemahnya himmah apabilasifat hasadnya berada dibawah standar yang wajar.

4.Syahwat
Syahwat adalah sifat asal manusia. Ia bukan sesuatu yang buruk selama ia masih dalam standar yang normal. Fitrah ini akan mendatangkan kenyamanan bagi hati dan akal dari kepenatan beribadah. Tapi apabila sifat ini berlebihan maka akan membawa manusia sampai kepada derjat binatang dan buas. Namun sebaliknya apabila ia kurang atau bahkan tidak ada sama sekali akan menjadikan manusia tidak seimbang dalam menjalani hidupnya.

5.Dermawan
Pada asalnya sifat dermawan ini adalah prilaku terpuji yang dimiiki oleh manusia. Apabila ia seimbang dalam diri manusia akan membawa manusia kepada kemuliaan, pemurah, peduli dan mampu berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Akan tetapi jika ia berlebihan akan menjadikan manusia mubazir dan mengeluarkan hartanya kepada hal yang tidak bermanfaat.  Akan tetapi apabila ia kurang dalam diri manusia akan melahirkan sifat bakhil dan kikir.Tentunya ini tidakbaik. 

Maka sebaik-baik urusan adalah yang di pertengahan. 

Referensi: Kitab Al Fawaid