Ranah

Ratok taragak dari rantau

Laba-laba

Together, everywhere, forever..

Be happy

Ceria mengejar impian.. tetap optimis walau jalan masih berdebu

Revolution

Menyaksikan sisa-sisa Revolusi Mesir di Tahrir Square

BBM club

Belajar,Berbagi, Mumtaz | Korean view - International Park

Sejarah kita tak bisa lepas dari orang, bangunan, dan tradisi. Di dalamnya kita temukan nilai-nilai, pola hubungan, budaya, dan juga peradaban. Pada ketiganya kita menyandarkan sebagian besar proses bertumbuh dalam hidup. Sebab hidup, adalah soal bercermin dari masa lalu dan masa sekarang, untuk masa depan. Oleh karena itu, Al Qur'an menyuruh kita berjalan, agar mata lebih terbuka, agar kita mau berpikir, mengambil pelajaran, dan mengerti. Maka, "Lihat Bangunan, Orang, dan Tradisi Negeri lain" #tarbawi 295

Selasa, 11 Juni 2013

Alunan Kalam Senja

Sore itu, setelah mendapat restu dari syekh, kami bergegas meninggalkan markaz menembus kepulan asap kendaraan yang berlalu lalang berbaur dengan debu jalanan yang menyesakkan nafas dan mengganggu pandangan sepanjang perjalanan dari Hawamidiyah menuju Kairo.

Tramco terus melaju berpacu dengan gelap malam, mengejar Maghrib di mahattah Munib. Di sela-sela suara berisik musik padang pasir tak karuan si sopir terus berteriak mamanggil penumpang.

"Munib...Munib.. Giza...Munib..."

Merasa tak nyaman dengan suara bising musik itu, seorang penumpang meminta sopir untuk mengecilkan volume audionya. Tanpa banyak protes akhirnya pemuda tanggung itu mengecilkan volume musik dan perlahan suara dendangan arab itu menghilang.

Tramco putih itu terus melaju, tak lama kemudian si sopir menyetel murattal, dari alunan suaranya sudah tak asing lagi, Imam Syaikh Musyari Rasyid dengan kelembutan suaranya yang khas membacakan Surat Ar-Rahman. Semua penumpang terdiam menikmati lafaz lafaz mulia itu. Ada nuansa sejuk yang menggetarkan hati.

Begitulah di negeri ini, hampir semua orang-sekeras apapun wataknya- selagi dia masih muslim akan mudah luluh dengan bacaan Al-Qur'an. Di Negeri ini, bukanlah suatu yang aneh jika ada orang yang membawa msuhaf ke mana-mana, membaca Al-Qur'an di bis, di metro(kereta), di angkutan umum lainnya, ataupun saat menunggu bis di halte. Al-Quran adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari hari-hari mereka. Baik pada hari-hari di bulan Ramadhan ataupun luar Ramadhan, sepertinya tak jauh beda.Bahkan di angkutan umum, alunan suara murattal bukan suatu hal yang asing. Memang tak seluruh sopir yang suka menyetel murattal di kendaraan mereka. Ada juga yang suka musik-musik tak karuan.Tapi tak ada yang berani komplain ketika sudah dihadapkan kepada lafaz-lafaz suci ini.

Ada sebuah pengalaman menarik seorang teman yang membuatku kagum lagi. Suatu ketika kawan ini melakukan perjalanan. Di tramco, ada seorang pemuda menyetel murattal lewat ponselnya, dengan volume yang agak dibesarkan agar semua orang bisa ikut menikmati. Ketika si sopir datang, dia meyetel musik dengan volume yang lumayan kencang, cukup untuk menyaingi suara ponsel tadi, lantas seorang bapak protes pada sopir dan menyuruh si sopir mamatikan musiknya. Sang Sopir tak menerima, dan terjadilah perdebatan sengit. Penumpang lain tak tinggal diam, dan akhirnya membela si bapak dan pemuda yang menyetel murattal tadi. "Dia lebih dahulu menyetel murattal daripada musik anda. Jadi tolong hargai bacaan Al-Qur'an itu..." Akhirnya si sopir terdiam dan kemudian mematikan musiknya, si pemuda pun ikut mematikan alunan murattal di ponselnya.Mungkin untuk menghargai perasan si sopir.Suasana berubah hening. Namun tak lama kemudian si sopir kembali menyetel audio car nya, tapi kali ini tak musik lagi, melainkan murattal.

Subhanallah, ini salah satu bukti ketundukan hati mereka pada Al-Qur'an.

Mengagumkan. Mereka juga sangat kagum dan senang pada siapapun yang hafal Al-Qur'an, apalagi orang asing. Tapi ini bukan berarti mereka tak hafal, malah sebaliknya.Setidaknya rata-rata mereka telah pernah menghafal Al-Qur'an 30 juz. Dan yang menarik lagi, mereka senantiasa berprasangka baik bahwa orang lain juga cinta pada Al-Qur'an. Maka ketika di bis atau dimana saja jika mereka melihat ada yang memasang headset, kalau mereka ingin berkomentar atau bertanya, mereka akan bertanya begini; "bitisma' Qur'an?" (Kamu lagi degarin Al-Qur'an ya?)"

Inilah salah satu potret terindah yang pernah kutemui di negeri Seribu Menara ini. Orang-orang yang cinta dengan bacaan Al-Qur'an, meskipun watak mereka sangat keras dan tempramen. Tapi hati mereka mudah luluh dengan ayat-ayat Tuhan mereka.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."(Qs. Al Anfaal ;2).

Potret ini akan mudah kita saksikan ketika 'berjalan' di negeri Nabi Musa ini. Seperti pengalaman perjalanan pulangku senja ini.

Di negeriku nun jauh di sana... ada ga ya, sopir angkot yang pede nyetel murattal?

Atau orang yang senang membaca Al-Qur'an, yang hatinya segera bergetar tunduk ketikamendengan bacaan Al-Qur'an?

________________________
Sepenggal cerita perjalanan pulang, senja yang menggetarkan hati, mengusik inspirasiku, menggoda naluriku untuk nulis lagi. Semoga bermanfaat untuk kita semua, Allahu a'lam.
>>Hawamdeya-Munib-New Cairo | 8 Oktober 2010

Yang Pertama yang Istimewa

Ada hal menarik yang sering kujumpai di wall fb beberapa hari ini.

Pertama, tiap kali kubuka wall, profil pertama yang muncul dan berada di urutan pertama orangnya tetap itu-itu saja. Selalu dia dari hari ke hari.

Kedua, setiap ku melakukan "posting", share atau update, yang ngasih jempol pertama selalu orangnya sama dan kemudian disusul yang lainnya. ^_^ Makasih buat yang sika ngasih jemPol.
Ketiga, ada yang selalu pertama memberikan respon pada status, foto, atau yang lainnya.
Keempat, ada juga yang pertama kali update dalam hal informasi.

Unik, dan masih bayak lagi "yang pertama" lainnya. Dan kawan barangkali juga pernah merasakan hal serupa.

Well, tak masalah dan tak ada yang salah. Mari kita tinggalkan pembahasan tentang mereka tadi. karena tak terlalu menarik pembahasan tentang orang-orang itu, dan kita tak berhak membahasnya. Lagian saya juga tak berminat "memperkarakan" mereka. Ntar tak ada lagi yang ngasih apresiasi. Biarkan mereka berkembang. .
Tapi ada yang lebih menarik untuk dibicarakan, yaitu istilah "yang pertama" Ada sebuah energi super yang terkandung dalam istilah itu. Hingga pada kenyataan banyak orang berlomba-lomba untuk mencapainya. Dan rata-rata orang memberikan sebuah apresiasi kepada mereka "yang pertama", ya tentunya dalam hal-hal kebaikan.

Mari kita baca biografi para tokoh dunia, khususnya dalam dunia sains (ilmu pengetahuan). Rata-rata mereka adalah para pioneer hingga nama mereka dikenang dan dihargai.

Allah SWT dan Rasul-Nya pun memberikan penghargaan kepada mereka yang pertama dalam melakukan kebaikan. Dalam Al-Qur'an Allah menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (..fastabiqul khairat).
Demikian juga Allah memuliakan para "assaabiquunal awwaluun" -mereka yang pertama masuk islam-, hingga memuliakan mereka dengan syurga.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan gelar "Ash-Shiddiq" kepada Abu Bakar karena dialah sahabat yang pertama kali membenarkan kerasulan beliau.

Artinya ada penghargaan istimewa untuk yang pertama.

Walaupun terkadang sebagian orang-orang yang cinta kepada keburukan, juga memberikan apresiasi kepada mereka yang pertama kali berhasil menimbulkan kemakaran. Tentu saja konteks ini diluar batas "etis" dan bukanlah hal yang diinginkan, melainkan sebuah penyimpangan. Namun pada hakikat tetap ada penghargaan kepda mereka "yang pertama", karena ia memang begitu istimewa.

Sungguh beruntung mereka yang pertama...

Yang pertama mengucapkan sami'na wa atho'na terhadap perintah Allah dan Rasulnya.
Yang pertama menjawab seruan shalat dan ada di shaff pertama dalam shalat.
Yang pertama peka dan peduli dengan kondisi saudara-saudaranya serta memberikan keringanan, dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.
Yang pertama hadir dalam majelis ilmu dan kebaikan.
yang pertama menjalin silaturrahim dan mema'afkan kesalahan saudaranya
Yang pertama bangun malam hari kala orang lain terlelap, lalu bermunajat pada-Nya.
Yang pertama menebar kebaikan hingga diikuti oleh orang-orang sesudahnya, hingga menjadi amal jariyah bagi dirinya.

“Barang siapa yang memberikan contoh dalam Islam, suatu contoh yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang mencontohkan contoh jelek dalam islam maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka”. (HR. Muslim)

 
Masih banyak peluang "Yang Pertama" lainnya yang memiliki keistimewaan tak ternilai.
So, mari jadi yang pertama. Karena yang pertama memang yang istimewa.

*catatan:Terdapat banyak pengulangan kata "Yang pertama" . Sengaja ditulis begitu agar kata "Yang Pertama" itu berkesan di hati. Semoga menjadi motivasi bagi kita semua. Terutama bagi kami pribadi.
Mohon maaf atas kekhilafan.
Allahu a'lam...

>Kamar atas , Almakki basecamp -Kampung 10- Nashr City-Cairo
Sebuah coretan dadakan
Suatu senja yang gerah 23 Juni 2010
Terimakasih buat sahabat-sahabat yang telah menjadi "Yang pertama" hingga menginspirasi tulisan ini. Semoga kita tetap yang pertama



#Arsip

Andai Hati Sebening Embun

Bismillah...

Selamat datang di hari ini. Semoga hari ini menjadi yang terindah dalam hidupmu. Tentunya bersama kebeningan hati mencari keberkahan dan ridho Sang Pencipta.

Kawan, sesekali cobalah tatap embun pagi. Bening sekali bukan? Namun kebeningan itu mampu memadukan aneka warna sekitar menjadi pesona terindah alam semesta. Beningnya tak ternoda hingga kita juga bisa menatap dengan jernih pemandangan dibelakangnya.

Sesekali, tataplah tetesan embun itu.Tetesan-tetesannya mampu memantulkan kemilau sinar surya pagi, memancarkan aura benderang dan keindahan di hamparan bumi ini. Tetesannya juga mampu memberikan kesejukan di tengah kersangnya dunia ini. Coba tatap lagi dengan penghayatan. Di sana kita akan merasakan agungnya mahakarya Sang Pencipta untuk kita renungi.

Kita. Alangkah indahnya jika kita memiliki hati sebening embun. Dengannya kita akan bisa menatap hidup ini lebih jernih. Hati sebening embun akan menerima kehidupan ini apa adanya namun mampu menjadikannya keindahan yang luar biasa. Seburuk dan serusak apapun bayangan yang diterima akan tetap dijadikan indah untuk ditatap. Inilah ketulusan dan kejernihan.

Hati sebening embun akan mampu memberikan kesejukan meskipun disekitarnya penuh kegersangan. Tak peduli seberapa banyak energi yang ia keluarkan.

Hati sebening embun, akan mampu menatap kehidupan ini dengan jernih, tak peduli sesemrawut apapun masalah yang dihadapi.

Andai kita pemilik hati sebening embun. Semoga





Menanti Fajar Shubuh, Jum'at 23.12.2011 : 05:45--
Istana SINAI Kampung 10 - Kota Kemenangan-

Selasa, 28 Mei 2013

Benci dan Dengki itu Pasti Akan Bungkam

        |@harakie21

Pada akhirnya orang2 yang menebar kebencian itu akan bungkam dan malu sendiri

Lihat aja orang2 Quraisy yang dulu sangat benci pada Rasulullah, petantang-petenteng sana sini menghasut

Akhirnya terdiam juga di depan kebenaran.

Atau seperti orang-orang yahudi? Yang mengenal Rasulullah sebagaimana mengenal anak-anak mereka sendiri. Tapi karena dengki...

Karena dengki kenapa Nabi tidak lahir dari golongan mereka, .. lalu membenci kebenaran yang sekian lama mereka tunggu2

Dan akhirnya orang-orang Yahudi seperti Bani Quraizah itu dibunuh dan ditawan. Yang menyepakati hukuman itu wakil mereka sendiri

Sayup2 kedengaran syair 'Di Hati ini Hanya Tuhan yang Tahu.." :p

makanya kamu jangan sok tahu isi hati orang, jangan sampe lancang mencap dia munafik.