Ranah

Ratok taragak dari rantau

Laba-laba

Together, everywhere, forever..

Be happy

Ceria mengejar impian.. tetap optimis walau jalan masih berdebu

Revolution

Menyaksikan sisa-sisa Revolusi Mesir di Tahrir Square

BBM club

Belajar,Berbagi, Mumtaz | Korean view - International Park

Sejarah kita tak bisa lepas dari orang, bangunan, dan tradisi. Di dalamnya kita temukan nilai-nilai, pola hubungan, budaya, dan juga peradaban. Pada ketiganya kita menyandarkan sebagian besar proses bertumbuh dalam hidup. Sebab hidup, adalah soal bercermin dari masa lalu dan masa sekarang, untuk masa depan. Oleh karena itu, Al Qur'an menyuruh kita berjalan, agar mata lebih terbuka, agar kita mau berpikir, mengambil pelajaran, dan mengerti. Maka, "Lihat Bangunan, Orang, dan Tradisi Negeri lain" #tarbawi 295

Sabtu, 11 Mei 2013

Klarifikasi demo mahasiswa Al Azhar

Luar biasa kerja media, ibaratkan mayat yang sudah terkubur bisa dibangkitkan lagi kapanpun mereka mau. Saya kira musibah keracunan mahasiswa Universitas Al Azhar yang berbuntut pada beberapa reaksi lapangan sudah selesai, eh ternyata diungkit lagi.

Akhirnya saya tergelitik juga berkomentar.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sedikit galau dan ingin tahu apa yang sebetulnya terjadi. Apalagi ini melibatkan nama universitas saya, Al Azhar. Setelah mencermati beberapa wacana di lapangan saya menilai BEM Universitas Al Azhr juga harus "bertanggung jawab atas reaksi tersebut karena mereka punya wewenang mengkoordinir dan mengetahui aktivitas mahasiswa di lapangan. Walaupun belum berhasil menemukan nomor HP presiden BEM, alhamdulillah saya ketemu ketua BEM Fakultas Ushuluddin. Padanya saya ceritakan saja apa yang terlintas dalam kepala dan beberapa wacana yang muncul di ranah publik.

Dia pun memberikan klarifikasi berikut fotokopi Press Release BEM Pusat. Dalam lembaran itu dinyatakan bahwa BEM telah mengikuti perkembangan kasus ini sejak awal, bahkan jauh-jauh hari sebelum meluas. Mereka juga sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak yang berwenang namun belum ada respon dan solusi, sementara kasus terus berkembang cepat dan korban keracunan berjatuhan. Akhirnya mereka mendatangi kantor Grand Syaikh (masyikhah) dan memimta agar kasus ini segera diinvestigasi dan menyampaikan beberapa aspirasi mahasiswa.

Dalam Press Release yang dikeluarkan tanggal 7 April 2013 tersebut dinyatakan beberapa poin pernyataan sikap, antara lain:
1. Memastikan penurunan rektor
2. Terus mengikuti ketetapan-ketetapan dewan tinggi Al Azhar
3. Percepatan proses pemilihan rektor baru agar tidak ada kekosongan dalam jabatan ini
4. Menegaskan sikap/aksi santun di hadapan Grand Syaikh, tanpa menentang lembaga Al Azhar atau keinginan untuk merongrog Grand Syaikh seperti yang dipelintir oleh sebagian pihak
5. Memberikan penghormatan dan bersikap santun terhadap para guru di Al Azhar, hanya saya berbeda pandangan soal pengelolaan.
6. Penghormatan terhadap lembaga Al Azhar, senantiasa bersikap loyal terhadap Al Azhar dan berusaha mempertahankan independensi Al Azhar
7. Berterimakasih kepada Grand Syaikh yang sudah memberikan respon dengan cepat.
Sebagaimana apresiai juga diberikan kepada presiden dan pihak-pihak yang cepat tanggap menangani masalah ini.

Di akhir pertemuan mereka berpesan jika teman-teman wafidin punya kendala dan uneg-uneg berkaitan dengan kemahasiswaan atau isu-isu keazharan, BEM siap membantu.

***
Sebagai pihak ketiga atau orang-orang di luar lapangan kita perlu menemui pihak yang terlibat langsung dan minta klarifikasi agar bisa memahami persoalan dengan jernih. Tapi memang, biasanya penonton terlihat lebih tahu daripada pemain. ^^

Semoga bermanfaat, Allahu a'lam

Carut Marut di Mesir Karena Mayoritas Media masih Pro Mubarak

Pemberitaan mengenai Mesir yang seolah sedang kacau di kebanyakan media akhir-akhir ini menyesatkan masyarakat. Hal ini dikatakan oleh sumber yang dekat dengan kepresidenan Mesir, Jum’at (3/5).

“Kebanyakan pemberitaan tentang ‘kekacaun’ Mesir menyesatkan. Bisa dibayangkan, jika kita berdiri di depan rumah kita sendiri, lalu sekelompok orang datang, kemudian tewas. Justru kitalah yang dituduh-tuduh sebagai pelaku kejahatan oleh media,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Dia menambahkan bahwa media Mesir pada umumnya dibagi menjadi dua. Pertama, media independen yang dimiliki swasta dan kedua media yang berafiliasi kepada Mubarak yang telah dilengserkan. Media kedua inilah yang mendominasi perusahaan media Mesir.
Menurut sumber itu, dirinya menyaksikan Mubarak memilih sendiri 43 pegawai media yang sampai saat ini masih bekerja di media-media.

Sumber tersebut menambahkan media-media Mesir lebih banyak memberitakan kerusuhan-kerusuhan anti Mursi daripada hal positif yang pemerintah lakukan.

“Mereka sedikit sekali memberitakan hal positif tentang pemerintah Mesir saat ini. Namun apabila terjadi peristiwa demo anti Mursi, di depan istana atau kantor pusat Ikhwanul Muslimin, mereka langsung memberitakannya, seolah ini adalah berita besar. Ketika jatuh korban tewas dari anggota Ikhwanul Muslimin, mereka sama sekali tidak memberitakannya.” katanya.

Terkait dengan protes anti Mursi, sumber tersebut mengungkapkan kerusuhan didalangi oposisi yang merekrut para tunawisma dan yatim yang tidak terlalu mengerti tentang arah kebijakan Mursi.

“Oposisi memanfaatkan mereka untuk ikut dalam aksi demo, dan bahkan saya mendapatkan info, mereka mendapatkan bayaran untuk itu,” yakinnya.

Sumber tersebut mengatakan kerusuhan yang hanya sebagian kecil itu dibesar-besarkan media, sehingga masyarakat dunia menganggap Mesir sedang berada di ‘ujung revolusi’ lagi.

“Mungkin sekitar 10.000 orang yang berdemo ini sangat kecil jika dibandingkan dengan 84 juta warga Mesir yang bukan oposisi dan damai-damai saja,” katanya.

Pernyataan itu didukung oleh Penelitian Pusat Media dan Pembelajaran Opini Publik Mesir yang menemukan bahwa 62% hasil peliputan media mengenai Presiden Mursi itu tidak memiliki standar profesional serta tidak ada landasan objektivitas yang mendasar.

Penelitian menyebutkan, ada sejumlah 176.000 produk pers dan 2.180 jam siaran televisi yang diteliti oleh tim yang ahli dalam pencitraan media. Studi itu mengungkapkan, ada satu pendekatan dominan yang dilakukan media Mesir swasta dalam memberitakan Presiden Mursi, yaitu adanya kebijakan mereka untuk membuat citra negatif presiden melalui saluran TV, situs website dan surat kabar. 

Membaca lagi sejarah Yahudi.

Sampai di sini semakin jelas, kenapa orang Mesir paling benci pada bangsa Yahudi (Bani Israil). Ternyata kebencian ini juga merupakan warisan sejarah masa lalu. Setelah anak cucu nabi Ya'qub -alaihissalam- pindah ke Mesir sesuai ajakan Yusuf-alaihissalam-, mereka pun hidup berdampingan dengan bangsa Mesir dan mendapatkan posisi terhormat karena saudara mereka, Yusuf adalah pejabat penting negeri ini.

Namun sepeninggal Yusuf, mereka mengkhianati rakyat Mesir hingga mereka pun dibenci. Maka terjadilah revolusi yang berhasil menumbangkan rezim dan digantikan oleh orang-orang pribumi. Adapun Bani Israil dijadikan tawanan dan budak. Sejak itu mereka tertindas di Mesir hingga mencapai puncaknya pada zaman Fir'aun.

Kemudian Allah mengutus Musa -alaihissalam- untuk membebaskan mereka dari kezhaliman Fir'aun. Setelah melewati perjuangan yang panjang, Nabi Musa berhasil membawa mereka keluar Mesir dan menenggelamkan Fir'aun.

Tapi apa yang dilakukan oleh Bani Israil setelah itu? Yang pertama mereka lakukan adalah mengkhianati Tuhan yang telah menyelamatkan mereka. Belum kering air di kaki mereka setelah menyeberangi Laut Merah, ketika mereka sampai di perkampungan suatu kaum penyembah berhala mereka berkata kepada Musa. "Wahai Musa, buatkanlah untuk kami Tuhan sebagaimana mereka mempunyai sembahan-sembahan..." Hingga Musa marah besar namun tetap bersabar menghadapi mereka.

Berlalu beberapa waktu dari pengembaraan mereka, Musa meninggalkan mereka untuk sementara waktu dalam rangka menjemput risalah Allah di bukit Thursina. Apa yang mereka lakukan? Tersebutlah Samiri kemudian membuatkan patung anak sapi dari tempahan emas yang kemudian mereka jadikan sembahan. Mereka berkhianat untuk kesekian kalinya. Sedih, marah, kecewa.. itulah yang dirasakan Musa alaihissalam sekembalinya dari Thursina.

Ketika mereka diajak untuk memasuki tanah yang dijanjikan, bereka bukannya menerima ajakan itu, tapi malah mengatakan kepada nabi mereka (Musa, alaihissalam): ".. Pergilah kamu bersama Tuhanmu, adapun kami akan duduk-duduk saja di sini."

Begitulah, sepanjang sejarah bangsa Yahudi dipenuhi dengan pengkhianatan. Dan pengkhianatan yang mereka lakukan langsung, hanya beberapa detik setelah maut nyaris menyambar mereka.

Bersambung..

Sunatullah Kebangkitan

Sebuah Catatan dari Kebangkitan Islam di Mesir

|Oleh: Harun Al Rasyid *

Menjelang naiknya poros gerakan Islam yang dipimpin Ikhwanul Muslimin ke panggung perpolitikan pasca revolusi 25 Januari, Dr. Mohammed Morsi terlebih dahulu dijebloskan ke penjara Mubarak bersama beberapa petinggi IM lainnya karena dianggap sebagai dalang kerusuhan (baca: revolusi). Namun revolusi terus berlanjut hingga Mubarak lengser dan gerakan Islam yang sebelumnya diberengus oleh Sang Diktator muncul ke permukaan. Kekuasaan absolut berakhir sudah digantikan dengan kebebasan.

Angin demokrasi ternyata membawa semangat baru perjuangan gerakan Islam yang ada di Mesir. Ikhwanul Muslimin yang tadinya dicekal habis-habisan muncul bagai arus besar yang tak terbendung. Salafi yang tadinya menutup diri dari arus perpolitikan ikut ambil bagian dalam arena demokrasi ini. Demikian juga dengan Jamaah Islamiyah dan lainnya juga ikut mengisi momentum ini. Semuanya berjuang menyuarakan syariat Islam dan menyelamatkan revolusi Mesir ke pangkuan Islam.

Dalam beberapa kali pemilu kemenangan berada di poros Islam. IM dan Salafy berhasil memperoleh banyak kursi di parlemen. Ini menandakan bahwa kesadaran dan kepercayaan rakyat pada Islam kian membaik. Tapi yang perlu kita catat bahwa sepanjang proses menuju kemenangan-kemenangan itu kekuatan islam seperti IM dan Salafy tak luput dari tekanan lawan-lawan politik mereka. Beberapa kali IM dan tokoh-tokohnya difitnah, diintimidasi secara moral bahkan fisik. Berbagai pencitraan negatif beredar di media-media yang membenci naiknya Islam memimpin Mesir. Sementara Salafy diadu domba dengan kelompok Koptik. Padahal entah siapa yang ada dibalik berbagai isu propokatif itu.

Beberapa jam sebelum terpilihnya Dr. Morsi sebagai presiden, secara sepihak MK membubarkan parlemen yang mayoritas diisi oleh aleg dari poros Islam pemenang pemilu pertama yang dipilih secara demokratis oleh rakyat. Jelas ini adalah pukulan terang-terangan yang bertujuan mendepak kekuatan Islam di parlemen dengan alasan status inkonstitusional. Cukup beralasan, sekiranya lembaga legislatif telah dikuasai oleh Islam dan presiden -ketika itu sudah diprediksi- dimenangkan oleh Morsi (capres dari IM), maka revolusi Mesir akan menjadi kuburan masal bagi kekuatan liberal dan pejabat-pejabat korup era Mubarak. Walaupun ini hanya ketekutan yang berlebihan dari kelompok non-islam. Sehingga beberapa pihak berupaya menggagalkan revolusi.

Setelah Morsi naik sebagai presiden ternyata tekanan itu semakin kuat. Barisan oposisi berupaya membuat suasana clash dan menciptakan opini buruk di ranah publik dengan harapan hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemerintahan yang ada lalu akan terjadi revolusi jilid 2. Tapi nyatanya mereka gagal total. Morsi dan IM tetap tenang dan berjalan walaupun ditekan terus menerus, diembargo oleh pengusaha-pengusaha fulul, didemo sepanjang hari bahkan istana negara diserang, kantor-kantor IM dirusak hingga beberapa kader mereka gugur (semoga Allah menyertakan mereka bersama para syuhada').

Mereka menginginkan agar kekuatan Islam yang ada 'lost of control" dan kemudian bertindak diluar akal sehat, dan setelah itu biar rakyat akan menilai dan bersikap.  Tapi publik semakin bisa membaca apa yang sebetulnya terjadi. Ketenangan, kesabaran, keyakinan dan tsiqoh kepada Allah justru membantu kesuksesan misi-misi yang tengah dibawa. Adapun tekanan-tekanan tadi hanyalah sebagai pecutan agar pemerintah fokus melakukan percepatan misi dan menjadi aba-aba agar senantiasa berada di atas rel. Justru memperkecil ruang bagi pengusung kebangkitan ini untuk bereuforia dan terlena menikmati kemenangan.

Mereka harus berpacu bersama waktu, mengalahkan rintangan dan tekanan yang ada. Tekanan yang ada justru semakin menyadarkan bahwa mereka hanya punya waktu sedikit. Orang tidak akan peduli seperti apa kondisi yang mereka lalui, tapi hanya akan melihat apa yang telah mereka lakukan. Lalu apa hasilnya? Proyek besar konstitusi baru Mesir berbasis Syariat Islam berhasil dirampungkan walau dalam badai tekanan. Untuk perkembangan terkini sedikit demi sedikit perekonomian yang marupakan prioritas utama mulai membaik.

Dan Katakanlah: “Beramallah kamu, maka Allah akan melihat amalmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa-apa yang telah kamu amalkan (di dunia)” (QS. At-Taubah: 105)

Dan sejarah tentunya akan terus berulang meski beda ruang dan waktu. Apa yang dialami gerakan Islam di Mesir bukan yang pertama, tapi merupakan warisan sunnatullah sejak dimulainya dakwah ini, dan sunnatullah itu tidak akan berubah.

Maka ketika melihat apa yang terjadi di tanah air hari ini, sepertinya tidak jauh beda dengan apa yang dialami oleh pengusung kebangkitan Islam di Mesir. Panggung dan suasananya mungkin beda. Tapi skanario tak akan jauh beda. Jika diibaratkan bola, para pemain sedang berjibaku dengan waktu untuk bisa menciptakan gol dan mengalahkan tim lawan. Maka saat ini kita sedang berpacu dengan waktu memperebutkan sebuah momentum besar yang akan terjadi dalam waktu dekat. Momentum kebangkitan.Yang kuat bertahan, yang bisa membaca situasi dan pintar merebut momentum, maka dialah yang akan menang. Terlalu fokus dengan kaki lawan akan membuat kita lupa mengontrol arah bola.

Kemenangan kita bukan karena banyak yang memuji dan menepuk tangani, tapi sebesar apa obsesi dan kesabaran kita berbuat lebih banyak. Biarkan orang-orang yang tidak senang berteriak sesuka mereka karena mereka mungkin dipekerjakan untuk itu. Dan kita tetap fokus dengan target kebangkitan yang sedang kita perjuangkan. Barangkali kita sedang ditempa untuk lebih siap memikul tugas besar ini. Intinya bagaimana menjadikan pukulan sebagai pemacu. Selama kita masih yakin bahwa sedang memperjuangkan sebuah kebenaran.

Tatkala kebenaran datang, kebatilan pasti akan hancur. Pasti.
Wallahu a'lam.

Kairo, 11 Mei 2013

|*Mahasiswa Universitas Al Azhar | Pengamat Timur Tengah, Pusat Kajian Informasi Alam Islami (SINAI) Mesir